December 4, 2009

Memahami Pengertian Sayang Binatang

Posted in Uncategorized tagged at 10:41 am by cocomerina

Memiliki satwa liar sebagai binatang peliharaan merupakan hal yang akhir-akhir ini sedang in dikalangan atas. Melihat harimau sumatera berkeliaran di dalam kandang di pekarangan atau burung merak yang mengembangkan sayapnya di halaman rumah pesohor, pengusaha, bahkan pejabat bukanlah suatu hal yang mengherankan lagi.  Ada bermacam alasan yang membuat satwa-satwa yang harusnya berada di habitatnya, di alam bebas, akhirnya harus dikungkung di kandang yang tak seberapa besarnya itu: mulai dari prestise hingga rasa cinta mereka terhadap satu jenis satwa liar.

Namun apakah kegemaran mereka yang agak diluar kebiasaan ini, mengingat satwa-satwa tersebut bukanlah animal domestic atau hewan yang umumnya dipelihara, benar-benar gambaran akan kecintaan mereka atas satwa tersebut?

Seperti yang diketahui bersama, Indonesia termasuk dalam tiga negara yang memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity) terbesar di dunia, bersama Brazil dan Zaire. Tidak hanya itu, biodiversity Indonesia memiliki tingkat kekhasan (endemism) yang sangat tinggi. Dari 300.000 satwa liar yang ada di seluruh dunia, 17%nya berada di hutan Indonesia. Sebanyak 515 jenis mamalia dan 1539 jenis burung serta 45% jenis ikan di dunia hidup di perairan Indonesia. Namun ironisnya, jumlah satwa liar yang terancam punah dari angka-angka di atas tidaklah kecil. 147 jenis mamalia, 114 jenis burung, 28 jenis reptil, 91 jenis ikan, dan 28 jenis invertebrata saat ini masuk ke dalam daftar satwa yang terancam punah.

Selain pembukaan areal tambang dan perambahan hutan, perdagangan satwa liar telah memberikan kontribusi yang besar terhadap susutnya jumlah satwa liar di Indonesia. Karena terhitung 95% satwa yang diperjualbelikan di pasar merupakan hasil tangkapan dari alam, bukan hasil penangkaran. Seiring dengan semakin meningkatnya demand para kolektor satwa liar baik dalam keadan hidup ataupun untuk barang pajangan, semakin gencar pula para pemburu mengeksploitasi satwa yang tersisa. Bisnis ini memang bukan bisnis kacangan. Omset yang mencapai angka triliunan cukup menggiurkan bagi para pemburu liar. Maka tak heran, kendati pemerintah sudah mengeluarkan Surat keputusan Menteri Kehutanan No.516/Kpts-II/1995 yang kemudian ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 mengenai perlindungan satwa liar, kegiatan perburuan masih tetap marak.

Perburuan dan perdagangan satwa liar tidak hanya mendatangkan kerugian materi bagi negeri ini. Semakin meningkatnya aktivitas ini, bayangan akan semakin terpuruknya keadaan alam kita sudah menanti di depan mata. Tidak banyak pihak yang mengetahui dan menganggap penting arti satwa liar bagi kelestarian alam. Padahal, seiring berkurangnya populasi mereka, semakin mendatangkan kesangsian bagi kita, apakah kita dapat mewariskan alam yang layak huni bagi anak cucu kita.

Primata misalnya, owa jawa dan orangutan secara tidak langsung berperan sebagai media penyebaran biji pepohonan. Melalui feces, mereka membantu memelihara kelangsungan hutan, karena biji-biji pepohonan yang terkandung di dalam feces mereka memiliki kemungkinan besar untuk tumbuh menjadi semaian. Sementara manusia berlomba-lomba untuk mengekspolitasi hutan, primata dan satwa liar lainnya malah membantu melestarikan hutan di bumi ini. Maka, arifkah jika kita terus membabi buta memburu mereka hanya demi prestise dan uang?

Tanggal 5 November 1992 merupakan kali pertama dicanangkannya Hari Cinta Puspa Satwa Nasional (HCPSN). Kendati sudah berjalan selama 17 tahun, namun event tahunan yang bertujuan untuk merangsang dan mengajak seluruh masyarakat untuk mencintai dan menjaga flora dan fauna Indonesia ini sepertinya kurang menggaung di tengah masyarakat Indonesia. Di tiap tahunnya, hanya para instansi terkait dan pejuang alam saja yang memperingatinya. Di lain pihak, kegiatan yang tidak mencerminkan cinta terhadap puspa dan satwa masih saja terus berjalan, bahkan semakin lama semakin menjadi-jadi.

Tampaknya, pemerintah dan para pejuang alam masih harus berjuang keras untuk mengkampanyekan event ini di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya sekadar tahu, namun juga mengajak mereka untuk mengerti esensi dicanangkannya HCPSN ini: mencintai dan menjaga flora dan fauna Indonesia sebaik-baiknya agar kita dapat mewariskannya pada anak cucu kita kelak. [Isthi-Volunteer]

Dari berbagai sumber

http://orangutan.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: