July 1, 2008

IL Palio–Hati Dan Jiwa Para Senese

Posted in Uncategorized tagged at 1:40 am by cocomerina

Jika Anda pergi ke Siena, kota kecil nan cantik di wilayah Toscana, Itali, maka tak lengkap rasanya jika Anda tidak menyaksikan Il Palio, Pacuan kuda khas Siena yang sudah diselenggarakan semenjak awal abad XI. Sebelumnya, saya telah membaca beberapa referensi mengenai Palio dari buku-buku grammar bahasa Itali yang saya temukan di perpustakaan Pusat Kebudayaan Italia, Kuningan, Jakarta Selatan. Kala itu saya menganggap jika Palio tak lain merupakan salah satu usaha pemerintah setempat untuk menarik perhatian lebih banyak turis untuk mengunjungi Siena. Namun, setelah saya melihat Palio dengan mata kepala sendiri, saya menyimpulkan jika Palio lebih dari sekadar atraksi budaya yang dipersembahkan untuk para turis, namun lebih kepada jiwa dan hati para Senese, warga Siena.

Saya menjejakkan kaki di kota yang serupa hamparan batu bata berwarna merah keemasan di tengah padang rumput, wine yard, dan rentetan pohon zaitun ini tepat dua hari sebelum pertandingan dimulai. Segera setelah saya memasuki pusat kota, atmosfer berpesta pun mulai terasa. Para penduduk lokal berbaur dengan turis asing dari mancanegara dan memenuhi setiap sudut kota. Dari piazza hingga ke kafe-kafe yang menyuguhkan cappuccino khas Itali, dari via (jalan besar) hingga ke vicollo (gang kecil). Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya menyatu menikmati gegap gempita menjelang diselenggarakannya Palio. Gedung-gedung dan apartemen disepanjang jalan dihiasi oleh bendera-bendera dari masing-masing contrada.

Yang menjadi penggerak akan pertandingan akbar ini adalah 17 contrada yang ada di Siena, yaitu sebuah sistem pembagian admisntrasi wilayah yang sudah dibentuk semenjak abad pertengahan yang terdiri dari: Aquila (Elang), Bruco (Ulat Bulu), Chicciola (Keong), Civetta (Burung Hantu), Drago (Naga), Giraffa (Jerapah), Istrice (Landak), Leocorno (Unicorn), Lupa (Serigala Betina), Nicchio (Kerang), Oca (Angsa), Onda (Ombak), Pantera (Harimau Kumbang), Selva (Hutan), Tartuca (Kura-Kura), Torre (Menara), dan Valdimonte (Biri-Biri Jantan). Contrada awalnya dibangun untuk mendukung pasukan militer yang disewa untuk mempertahankan kemerdekaan Siena dari Florence dan kota-kota disekitarnya. Semakin lama, contrada semakin kehilangan fungsi administratifnya dan pada akhirnya menjadi satu wilayah yang mengorganisasi penduduknya dimana emosi dan kesetiaan tercurah.

Bisa dibilang contrada telah menguasai kehidupan para contradaioli (sebutan untuk penduduk contrada); kelahiran, pembaptisan, pernikahan, hingga kematian. Contrada selalu hadir dalam kehidupan mereka. Sedari lahir anak-anak sudah diperkenalkan dengan contradanya, dan seiring berjalannya waktu, kecintaan dan kesetiaan mereka semakin tumbuh pada contrada mereka. Hal ini semakin terlihat jelas pada saat pelaksanaan Palio, masing-masing contradioli mulai terhipnotis dengan suasana menjelang pertandingan. Lupakan teman, sahabat, bahkan pasangan hidup, saat ini … kemenangan contradanya menjadi yang utama.

Persiapan masing-masing contrada untuk menghadapi pertandingan ini sudah dimulai sejak jauh-jauh hari. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memilih il Capitano (Kapten) mereka. Sang kapten lah yang akan mengurus keuangan contrada, menyusun strategi perang untuk palio nantinya, dan yang akan memimpin pasukan pada Palio di medan perang. Lalu ada Barbaresco, seseorang yang bertugas untuk menjaga kuda yang akan mereka gunakan untuk bertanding. Tugas selanjutnya adalah memilih Comparsa, barisan pemuda yang akan menggunakan kostum khas contrada sebelum pertandingan dimulai. Ada dua bagian comparsa yang paling penting yang harus dipilih, barisan yang akan membawa umbul-umbul contrada, atau yang disebut dengan il piaggio maggiore dan il duce, barisan yang akan menggunakan pakaian perang a la abad pertengahan yang menggambarkan betapa megahnya contrada mereka.

Untuk beberapa bulan kedepan, orang-orang yang beruntung tersebut akan mempersembahkan setiap waktu luang yang mereka miliki untuk merencanakan pengaturan posisi, berlatih melempar bendera, dan meningkatkan kemampuan memukul genderang yang akan menyertai pawai contrada mengelilingi pusat kota sebelum pacuan dimulai. Dari sinilah perjuangan dan harapan mereka dimulai.

Tiga hari sebelum Palio dimulai, diadakan sebuah undian yang akan menentukan kuda mana yang akan digunakan oleh masing-masing contrada. Undian ini merupakan penentu takdir mereka, karena menang kalahnya mereka dalam pacuan tersebut akan ditentukan oleh kuda seperti apa yang mereka akan dapatkan. Maka pada hari itu akan terpilih sepuluh kuda beruntung yang akan berlaga di tahun itu. Ya … Anda benar, sepuluh kuda. Setiap pertandingan hanya ada sepuluh contrada yang akan bertanding, alasannya adalah: arena pacuannya terlalu kecil jika harus digunakan untuk tujuh belas kuda. Maka dari itu, Il Palio di selenggarakan dua kali setiap tahunnya, 2 Juli dan 16 Agustus. Pertandingan 2 Juli dipersembahkan untuk Madona Provenzano dan pertandingan yang diselenggarakan pada 16 Agustus dipersembahkan untuk Sang perawan Maria. Tiap tahunnya sudah ditetapkan sepuluh contrada yang akan bertanding di bulan Juli, sedangkan pada bulan Agustus, akan ada tiga contrada beruntung yang dapat mengikuti kembali pertandingan bulan ini melalui proses undian. Dalam hal ini, contrada Leocorno terkenal dengan keberuntungannya, karena bisa dipastikan tiap kali undian dilaksanakan nama Leocorno selalu menjadi salah satunya.

Setelah masing-masing contrada memiliki kudanya untuk bertanding, maka akan dilaksanakan pertandingan percobaan sebanyak enam kali sehingga para il fantino (joki) dapat menyesuaikan diri dengan kuda-kuda yang akan mereka tunggangi. Pada sesi percobaan ini suasana kerap memanas. Yang menarik dari pertandingan ini, Palio ternyata kerap dibumbui oleh permainan politik antarcontrada, suap menyuap agar seorang joki dari contrada lawan menyerah, hingga usaha yang sedikit konyol, yaitu dengan memberikan obat pencahar sehingga pada saatnya kuda lawan tidak dapat bertanding. Hal ini akan berlangsung hingga detik terakhir pacuan, jika pada saat terakhir sang joki mendapatkan penawaran harga yang pas dari contrada lawan, maka bisa dibayangkan … dia tak harus berjuang dengan keras untuk memenangkan pertandingan kali itu.

Semakin mendekati acara puncak suasana semakin meriah. Semua orang terpusat di kota kecil yang mayoritas bangunannya bergaya gothic itu. Orang-orang memenuhi jalan untuk menyaksikan kuda yang diarak masing-masing contrada mengelilingi kota. Dibelakangnya, pasukan yang terdiri dari barisan pria berbaju jirah, diikuti dengan pemegang umbul-umbul contrada lalu barisan pria yang memainkan bendera berjalan dengan diiringi genderang yang dipukul bertalu-talu. Di akhir barisan, para contradioli akan mengikuti mereka sembari menyanyikan lagu kebangsaan contrada. Kegembiraan dan pengharapan terpampang jelas di wajah mereka, tak ada yang lebih penting hari itu selain menangnya contrada mereka pada pacuan yang akan diselenggarakan tak lama lagi.

Pintu terakhir menuju Piazza Il Campo, tempat dilaksanakannya Palio ditutup tepat pukul 17.00. Saya harus berjuang dengan ratusan orang lainnya agar saya bisa masuk ke dalam piazza dan mendapat tempat yang strategis sehingga saya dapat melihat pertandingan dengan jelas. Setelah berdesak-desakan sekitar lima belas menit, akhirnya saya dapat memasuki bagian tengah piazza bersama sekitar 50.000 orang lainnya. Bagi yang sudah di dalam arena, maka dia harus bertahan hingga pertandingan selesai karena semua akses keluar masuk piazza akan ditutup rapat untuk prosesi acara menjelang pacuan kuda. Suasana semakin lama semakin memanas. Masing-masing pendukung meneriakkan yel-yel dan terus bernyanyi. Keributan rawan terjadi, hal-hal kecil dapat memancing amarah contradioli. Selama kurang lebih dua jam saya berdiri disana, terhituang ada lima pertengkaran tersulut, untungnya ada carabinieri (tentara) yang selalu berjaga di tepi lapangan. Arak-arakan masing-masing contrada mulai memasukki piazza. Para pembawa bendera menunjukkan kebolehannya melemparkan bendera yang tak terbayang beratnya. Sorakan riuh para penonton mengiringi ketika dua orang pemegang bendera saling melempar benderanya tinggi-tinggi, bersilangan di udara, dan pada akhirnya bendera jatuh tepat di tangan sang pelempar. Iringin-iringan terus memutari piazza hingga akhirnya, sebagai penutup, drappellone, lambang supremasi yang disediakan untuk pemenang hari itu diarak mengelilingi piazza diriringi sorakan penonton.

Tepat pukul tujuh malam, kuda-kuda pacuan beserta joki berdiri teratur di belakang tambang pembatas garis start. Pada saat terompet berbunyi, dada saya seakan berhenti berdegup melihat kuda-kuda yang melaju secepat kilat. Suasanya semakin meriah tatkala masing-masing pendukung meneriakkan contrada jagoannya. Sebaiknya Anda jangan memalingkan pandangan dari kuda-kuda yang sedang bertanding, karena mereka hanya mengelilingi piazza sebanyak tiga kali. Hanya dalam waktu satu menit setengah, selesailah pacuan ini, kesempatan untuk menyaksikan contrada yang keluar sebagai pemenang dapat terlewatkan. Untuk perlombaan kali ini, menanglah Leocorno, contrada yang konon selalu dihampiri keberuntungan.

Entah mengapa saya memiliki perasaan buruk, setelah pertandingan dinyatakan selesai segera saya berlari keluar dari piazza dan menjauhi kerumunan yang mulai berhamburan menghampiri sang pemenang. Benar saja, dari kejauhan saya mendengar suara botol-botol yang dipecahkan berbaur dengan suara teriakan kecewa pendukung contrada yang dinyatakan kalah. Tak lama berselang, ratusan contradioli dari pihak yang kalah, laki-laki dan perempuan berlari sembari menangis dan meneriakkan “Non e’ possibile (tidak mungkin)” secara berulang-ulang. Tanpa dikomando, saya langsung menepi memberi mereka jalan. Agak heran saya melihat ada pemuda gagah yang berlari sambil menangis. Namun pada Palio, semuanya menjadi mungkin.

Di sisi lain, pasukan contradioli Leocorno sedang merayakan kemenangannya. Kemenangan yang mereka persiapkan dan harapkan selama setahun penuh. Hasil perjuangan para panitia palio untuk mengatur strategi dan memilih joki yang handal. Suara teriakan kemenangan dan lagu kemenangan bercampur menjadi satu mengisyaratkan kebahagiaan dan kegembiraan yang tak terperi. Hari itu, sang joki menjadi bintangnya. Diangkat ke udara oleh berpuluh-puluh orang dan disandingkan dengan drappellone yang untuk selanjutnya akan dipajang di musium contrada dan akan menjadi kebanggaan mereka selama sisa tahun berjalan.

Belum pernah saya melihat luapan kegembiraan, kemarahan, dan kesedihan yang bercampur pada satu hari sekaligus. Apa yang menjadi impian mereka selama satu tahun ini terjawab sudah. Bagi contrada yang keluar menjadi pemenang, dapat terbayang kelanjutannya: la festa della contrada (pesta contrada) selama tiga bulan penuh akan menghiasi hari-hari mereka. Makan malam di meja-meja panjang yang dihadiri seluruh contradioli, limpahan anggur khas Toscana, dan proscuito (ham) yang menggugah selera tak alpa dari agenda mereka. Bagi yang kalah, akan selalu ada harapan menjadi pemenang di tahun-tahun mendatang. Pada saat ini, yang terpenting adalah kembali mengatur strategi sehingga pada pertandingan yang akan datang, mereka lah yang akan membawa pulang drappelloei ke musium mereka. [isthi]

http://ureport.vivanews.com/news/read/10927-hati_dan_jiwa_para_senese

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: