May 22, 2008

100 Tahun Kebangkitan Nasional RI

Posted in Uncategorized at 1:36 am by cocomerina

Pak ABC, seorang pejabat tinggi di negeri tercinta ini sedang mengadakan lawatan ke salah satu daerah pinggiran Jakarta. Pada kesempatan kali ini Pak ABC mewawancarai Pak EFG, salah seorang pekerja serabutan yang tinggal di daerah tersebut. Sayangnya Pak EFG ini suka dodol … suka ga nyambung … ditanya ini jawabnya itu … kita simak aja hasil wawancara selengkapnya.

ABC: “Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Saya makan 1 kali sehari, 2 sehat tidak sempurna Pak.”

ABC: “Saya ulangi pertanyaannya: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Terkadang saya dan anak makan nasi aking Pak.”

ABC: “Saya tidak puas dengan jawaban Bapak, baik saya ulangi lagi pertanyaannya: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Anak-anak saya putus sekolah karena saya tidak sanggup membayar biaya sekolah dan membeli buku yang diwajibkan oleh pihak sekolah Pak.”

ABC: “Wa … jawaban Bapak semakin ngawur, saya ulangi lagi ya Pak, Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Jangankan untuk sekolah Pak, anak saya, si Joko … kemarin nyaris meninggal dunia akibat saya tidak bisa membelikan mereka makanan … kata Bu Mantri sih kena … mmmm apa itu gizi buruk ya Pak?”

ABC: “Aduuh Bapak … coba simak pertanyaan saya baik-baik! Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Anak saya yang tertua sekarang sudah meninggal Pak … dua tahun lalu dia jadi korban tabrak lari … saya sudah coba bawa ke rumah sakit dekat2 sini ditolak … karena peralatannya tidak lengkap, lalu saya bawa ke rumah sakit di ujung jalan sana … ditolak juga karena mereka minta uang buat depeh … saya ga punya uang Pak … akhirnya puteri saya yang paling cantik itu mati begitu saja dipangkuan saya.”

ABC: “Bapak jangan mempermainkan saya ya … SEKALI LAGI SAYA ULANG PERTANYAAN SAYA: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Istri saya sekarang sering mengeluh pegal-pegal Pak … tulangnya terasa rontok katanya … pas saya tanya kenapa dia bilang: “Aduuuh Pa’e … aku sudah ndak kuat lagi cari kayu bakar … sampean kan sudah tau hutan da ndak ada lagi disini … da ditebangin … jadinya aku harus jalan juauuuh buanggget … aku ndak tahan lagi Pa’e. Pas saya tanya: “Lo … kamu kenapa repot-repot cari kayu? liat itu di tipinya Pak Lurah … bukannya pemerintah bagi-bagi botol warna hijau itu Bu’e … katanya bisa buat masak … canggih kan itu alat”. Tapi istri saya bilang lagi ke saya: ” walah dalah Pa’e … kita ga kebagian Pa’e … sudah diambil Bu Lurah semua … dia dapet 5 botol tuh ta’ liat kemarin.”

ABC: “Bapak itu meracau saja kerjanya: INI YANG TERAKHIR KALI YA PAK … SAYA ULANGI: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “sebentar lagi BBM naik Pak … penghasilan saya yang cuma 15.000 sehari, mana bisa menutupi kebutuhan rumah tangga. Terpaksa saya minta si Andi, si Joko, dan si Siti anak-anak saya buat jualan koran di perempatan jalan sana … ya Alhamdulillah mereka tiap hari bisa bawa uang 5.000 perak tiap anak. lumayan kan Pak … kami bisa makan nasi perak, tempe, dan sambel terasi huuuuaaa nikmat Pak. Tapi saya ga tau nih Pak setelah BBM naik … kami bisa makan nasi, tempe sama sambel ga ya Pak … la wong harga cabe sekilo aja sekarang saya denger dari tukang sayur sudah 40 ribu … walah walah … nyambel aja kok mahal … gimana daging ayam ya Pak … huahuahua (tertawa terbahak-bahak).”

ABC: “PAK EFG … saya LELAH dengan Bapak … jawaban Bapak melantur kesana kesini … ga beres … warga negara macam apa Bapak ini … malu-maluin saya sebagai pejabat.”

EFG: “BAPAK!!!! pejabat macam apa Bapak ini … tingkah laku Bapak dan penggede2 lainnnya melantur kesana-kesini. Saya tidak puas dengan kinerja Bapak dan tim selama ini … kebijakan2nya semakin lama semakin ngawur. katanya pembela rakyat tapi kerjanya hanya mempermainkan rakyat dan meracau ga jelas supaya kami anggap Bapak dan tim itu orang hebat. Apa Bapak ga sadar kalau kami JUGA LELAH dengan Bapak … yang ga pernah malu make duit rakyat, terima suap, pake fasilitas2 nomor satu dan mobil2 mengilap sementara kami bisa makan 3 kali sehari pakai tempe dan sambel saja sudah senangnya setengah mati. Dasar … pejabat macam apa Bapak ini?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: