February 6, 2010

Copenhagen Accord: Lembar Kesepakatan Untuk Kelangsungan Bumi Kita

Posted in Uncategorized at 3:52 am by cocomerina

Untuk ke lima belas kalinya, KTT Perubahan Iklim (COP), sebuah pertemuan yang membahas tentang iklim terbesar dalam sejarah diselenggarakan. KTT ini diselenggarakan di Copenhagen, Denmark, 7-18 Desember 2009. Pertemuan akbar ini melibatkan 15.000 orang dari 192 negara dan dihadiri oleh 105 kepala Negara.

Aksi penyelamatan bumi yang diselenggarakan selama kurang lebih dua minggu ini ditutup dengan keluarnya deklarasi mengenai perubahan iklim internasional yang dikenal dengan Copenhagen Accord, atau Kesepakatan Kopenhagen. Dalam kesepakatan ini, disebutkan jika suhu bumi tidak boleh naik lebih dari 2 derajat celcius dan terdapat sejumlah sumber dana hingga 100 miliar dolar AS pada tahun 2020 untuk penanganan dampak perubahan iklim.

Kendati rancangan keputusan COP tersebut oleh beberapa pihak dinilai lebih baik jika dibandingkan dengan “Bali Action Plan” sebagai hasil COP ke-13 di tahun 2007, namun hasil KTT kali ini dirasa kurang memuaskan karena tidak mencapai keputusan yang mengikat secara hukum (legally binding agreement) dan hanya berupa keputusan (decision) yang merupakan hasil paling lemah dalam sebuah konfrensi multilateral.

Tidak dilibatkannya beberapa Negara berkembang dalam penyusunan rancangan Copenhagen Accord ini menyebabkan konferensi ini tidak bisa meluluskan perjanjian tersebut dan hanya mencatatnya saja.

Lemahnya status kesepakatan ini akhirnya meninggalkan pertanyaan: apakah cita-cita memperbaiki kondisi bumi dapat tercapai apabila kesepakatan tersebut tidak menyebutkan batasan waktu dan angka target yang tepat terkait dengan pengurangan emisi gas yang dihasilkan oleh negara-negara maju? Ditambah lagi, tidak dibahasnya sangsi bagi pihak-pihak yang melanggar menimbulkan suara miring dari organisasi-organisasi lingkungan internasional yang menyebutkan jika rancangan tersebut merupakan langkah mundur dibandingkan dengan kesepakatan perbaikan iklim dalam Protokol Kyoto.

Banyak pihak bergantung pada keputusan yang dibuat di KTT Perubahan Iklim ini. Saling tuding antara negara berkembang dan negara maju mengenai siapa yang paling berkontribusi akan rusaknya iklim bumi ini sudah harus ditengahi dengan keluarnya suatu kesepakatan bersama yang mengikat dan membagi tanggung jawab yang sama untuk menjaga bumi ini. [ish]

Advertisements

December 4, 2009

Memahami Pengertian Sayang Binatang

Posted in Uncategorized tagged at 10:41 am by cocomerina

Memiliki satwa liar sebagai binatang peliharaan merupakan hal yang akhir-akhir ini sedang in dikalangan atas. Melihat harimau sumatera berkeliaran di dalam kandang di pekarangan atau burung merak yang mengembangkan sayapnya di halaman rumah pesohor, pengusaha, bahkan pejabat bukanlah suatu hal yang mengherankan lagi.  Ada bermacam alasan yang membuat satwa-satwa yang harusnya berada di habitatnya, di alam bebas, akhirnya harus dikungkung di kandang yang tak seberapa besarnya itu: mulai dari prestise hingga rasa cinta mereka terhadap satu jenis satwa liar.

Namun apakah kegemaran mereka yang agak diluar kebiasaan ini, mengingat satwa-satwa tersebut bukanlah animal domestic atau hewan yang umumnya dipelihara, benar-benar gambaran akan kecintaan mereka atas satwa tersebut?

Seperti yang diketahui bersama, Indonesia termasuk dalam tiga negara yang memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity) terbesar di dunia, bersama Brazil dan Zaire. Tidak hanya itu, biodiversity Indonesia memiliki tingkat kekhasan (endemism) yang sangat tinggi. Dari 300.000 satwa liar yang ada di seluruh dunia, 17%nya berada di hutan Indonesia. Sebanyak 515 jenis mamalia dan 1539 jenis burung serta 45% jenis ikan di dunia hidup di perairan Indonesia. Namun ironisnya, jumlah satwa liar yang terancam punah dari angka-angka di atas tidaklah kecil. 147 jenis mamalia, 114 jenis burung, 28 jenis reptil, 91 jenis ikan, dan 28 jenis invertebrata saat ini masuk ke dalam daftar satwa yang terancam punah.

Selain pembukaan areal tambang dan perambahan hutan, perdagangan satwa liar telah memberikan kontribusi yang besar terhadap susutnya jumlah satwa liar di Indonesia. Karena terhitung 95% satwa yang diperjualbelikan di pasar merupakan hasil tangkapan dari alam, bukan hasil penangkaran. Seiring dengan semakin meningkatnya demand para kolektor satwa liar baik dalam keadan hidup ataupun untuk barang pajangan, semakin gencar pula para pemburu mengeksploitasi satwa yang tersisa. Bisnis ini memang bukan bisnis kacangan. Omset yang mencapai angka triliunan cukup menggiurkan bagi para pemburu liar. Maka tak heran, kendati pemerintah sudah mengeluarkan Surat keputusan Menteri Kehutanan No.516/Kpts-II/1995 yang kemudian ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 mengenai perlindungan satwa liar, kegiatan perburuan masih tetap marak.

Perburuan dan perdagangan satwa liar tidak hanya mendatangkan kerugian materi bagi negeri ini. Semakin meningkatnya aktivitas ini, bayangan akan semakin terpuruknya keadaan alam kita sudah menanti di depan mata. Tidak banyak pihak yang mengetahui dan menganggap penting arti satwa liar bagi kelestarian alam. Padahal, seiring berkurangnya populasi mereka, semakin mendatangkan kesangsian bagi kita, apakah kita dapat mewariskan alam yang layak huni bagi anak cucu kita.

Primata misalnya, owa jawa dan orangutan secara tidak langsung berperan sebagai media penyebaran biji pepohonan. Melalui feces, mereka membantu memelihara kelangsungan hutan, karena biji-biji pepohonan yang terkandung di dalam feces mereka memiliki kemungkinan besar untuk tumbuh menjadi semaian. Sementara manusia berlomba-lomba untuk mengekspolitasi hutan, primata dan satwa liar lainnya malah membantu melestarikan hutan di bumi ini. Maka, arifkah jika kita terus membabi buta memburu mereka hanya demi prestise dan uang?

Tanggal 5 November 1992 merupakan kali pertama dicanangkannya Hari Cinta Puspa Satwa Nasional (HCPSN). Kendati sudah berjalan selama 17 tahun, namun event tahunan yang bertujuan untuk merangsang dan mengajak seluruh masyarakat untuk mencintai dan menjaga flora dan fauna Indonesia ini sepertinya kurang menggaung di tengah masyarakat Indonesia. Di tiap tahunnya, hanya para instansi terkait dan pejuang alam saja yang memperingatinya. Di lain pihak, kegiatan yang tidak mencerminkan cinta terhadap puspa dan satwa masih saja terus berjalan, bahkan semakin lama semakin menjadi-jadi.

Tampaknya, pemerintah dan para pejuang alam masih harus berjuang keras untuk mengkampanyekan event ini di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya sekadar tahu, namun juga mengajak mereka untuk mengerti esensi dicanangkannya HCPSN ini: mencintai dan menjaga flora dan fauna Indonesia sebaik-baiknya agar kita dapat mewariskannya pada anak cucu kita kelak. [Isthi-Volunteer]

Dari berbagai sumber

http://orangutan.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=2

July 1, 2008

IL Palio–Hati Dan Jiwa Para Senese

Posted in Uncategorized tagged at 1:40 am by cocomerina

Jika Anda pergi ke Siena, kota kecil nan cantik di wilayah Toscana, Itali, maka tak lengkap rasanya jika Anda tidak menyaksikan Il Palio, Pacuan kuda khas Siena yang sudah diselenggarakan semenjak awal abad XI. Sebelumnya, saya telah membaca beberapa referensi mengenai Palio dari buku-buku grammar bahasa Itali yang saya temukan di perpustakaan Pusat Kebudayaan Italia, Kuningan, Jakarta Selatan. Kala itu saya menganggap jika Palio tak lain merupakan salah satu usaha pemerintah setempat untuk menarik perhatian lebih banyak turis untuk mengunjungi Siena. Namun, setelah saya melihat Palio dengan mata kepala sendiri, saya menyimpulkan jika Palio lebih dari sekadar atraksi budaya yang dipersembahkan untuk para turis, namun lebih kepada jiwa dan hati para Senese, warga Siena.

Saya menjejakkan kaki di kota yang serupa hamparan batu bata berwarna merah keemasan di tengah padang rumput, wine yard, dan rentetan pohon zaitun ini tepat dua hari sebelum pertandingan dimulai. Segera setelah saya memasuki pusat kota, atmosfer berpesta pun mulai terasa. Para penduduk lokal berbaur dengan turis asing dari mancanegara dan memenuhi setiap sudut kota. Dari piazza hingga ke kafe-kafe yang menyuguhkan cappuccino khas Itali, dari via (jalan besar) hingga ke vicollo (gang kecil). Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya menyatu menikmati gegap gempita menjelang diselenggarakannya Palio. Gedung-gedung dan apartemen disepanjang jalan dihiasi oleh bendera-bendera dari masing-masing contrada.

Yang menjadi penggerak akan pertandingan akbar ini adalah 17 contrada yang ada di Siena, yaitu sebuah sistem pembagian admisntrasi wilayah yang sudah dibentuk semenjak abad pertengahan yang terdiri dari: Aquila (Elang), Bruco (Ulat Bulu), Chicciola (Keong), Civetta (Burung Hantu), Drago (Naga), Giraffa (Jerapah), Istrice (Landak), Leocorno (Unicorn), Lupa (Serigala Betina), Nicchio (Kerang), Oca (Angsa), Onda (Ombak), Pantera (Harimau Kumbang), Selva (Hutan), Tartuca (Kura-Kura), Torre (Menara), dan Valdimonte (Biri-Biri Jantan). Contrada awalnya dibangun untuk mendukung pasukan militer yang disewa untuk mempertahankan kemerdekaan Siena dari Florence dan kota-kota disekitarnya. Semakin lama, contrada semakin kehilangan fungsi administratifnya dan pada akhirnya menjadi satu wilayah yang mengorganisasi penduduknya dimana emosi dan kesetiaan tercurah.

Bisa dibilang contrada telah menguasai kehidupan para contradaioli (sebutan untuk penduduk contrada); kelahiran, pembaptisan, pernikahan, hingga kematian. Contrada selalu hadir dalam kehidupan mereka. Sedari lahir anak-anak sudah diperkenalkan dengan contradanya, dan seiring berjalannya waktu, kecintaan dan kesetiaan mereka semakin tumbuh pada contrada mereka. Hal ini semakin terlihat jelas pada saat pelaksanaan Palio, masing-masing contradioli mulai terhipnotis dengan suasana menjelang pertandingan. Lupakan teman, sahabat, bahkan pasangan hidup, saat ini … kemenangan contradanya menjadi yang utama.

Persiapan masing-masing contrada untuk menghadapi pertandingan ini sudah dimulai sejak jauh-jauh hari. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memilih il Capitano (Kapten) mereka. Sang kapten lah yang akan mengurus keuangan contrada, menyusun strategi perang untuk palio nantinya, dan yang akan memimpin pasukan pada Palio di medan perang. Lalu ada Barbaresco, seseorang yang bertugas untuk menjaga kuda yang akan mereka gunakan untuk bertanding. Tugas selanjutnya adalah memilih Comparsa, barisan pemuda yang akan menggunakan kostum khas contrada sebelum pertandingan dimulai. Ada dua bagian comparsa yang paling penting yang harus dipilih, barisan yang akan membawa umbul-umbul contrada, atau yang disebut dengan il piaggio maggiore dan il duce, barisan yang akan menggunakan pakaian perang a la abad pertengahan yang menggambarkan betapa megahnya contrada mereka.

Untuk beberapa bulan kedepan, orang-orang yang beruntung tersebut akan mempersembahkan setiap waktu luang yang mereka miliki untuk merencanakan pengaturan posisi, berlatih melempar bendera, dan meningkatkan kemampuan memukul genderang yang akan menyertai pawai contrada mengelilingi pusat kota sebelum pacuan dimulai. Dari sinilah perjuangan dan harapan mereka dimulai.

Tiga hari sebelum Palio dimulai, diadakan sebuah undian yang akan menentukan kuda mana yang akan digunakan oleh masing-masing contrada. Undian ini merupakan penentu takdir mereka, karena menang kalahnya mereka dalam pacuan tersebut akan ditentukan oleh kuda seperti apa yang mereka akan dapatkan. Maka pada hari itu akan terpilih sepuluh kuda beruntung yang akan berlaga di tahun itu. Ya … Anda benar, sepuluh kuda. Setiap pertandingan hanya ada sepuluh contrada yang akan bertanding, alasannya adalah: arena pacuannya terlalu kecil jika harus digunakan untuk tujuh belas kuda. Maka dari itu, Il Palio di selenggarakan dua kali setiap tahunnya, 2 Juli dan 16 Agustus. Pertandingan 2 Juli dipersembahkan untuk Madona Provenzano dan pertandingan yang diselenggarakan pada 16 Agustus dipersembahkan untuk Sang perawan Maria. Tiap tahunnya sudah ditetapkan sepuluh contrada yang akan bertanding di bulan Juli, sedangkan pada bulan Agustus, akan ada tiga contrada beruntung yang dapat mengikuti kembali pertandingan bulan ini melalui proses undian. Dalam hal ini, contrada Leocorno terkenal dengan keberuntungannya, karena bisa dipastikan tiap kali undian dilaksanakan nama Leocorno selalu menjadi salah satunya.

Setelah masing-masing contrada memiliki kudanya untuk bertanding, maka akan dilaksanakan pertandingan percobaan sebanyak enam kali sehingga para il fantino (joki) dapat menyesuaikan diri dengan kuda-kuda yang akan mereka tunggangi. Pada sesi percobaan ini suasana kerap memanas. Yang menarik dari pertandingan ini, Palio ternyata kerap dibumbui oleh permainan politik antarcontrada, suap menyuap agar seorang joki dari contrada lawan menyerah, hingga usaha yang sedikit konyol, yaitu dengan memberikan obat pencahar sehingga pada saatnya kuda lawan tidak dapat bertanding. Hal ini akan berlangsung hingga detik terakhir pacuan, jika pada saat terakhir sang joki mendapatkan penawaran harga yang pas dari contrada lawan, maka bisa dibayangkan … dia tak harus berjuang dengan keras untuk memenangkan pertandingan kali itu.

Semakin mendekati acara puncak suasana semakin meriah. Semua orang terpusat di kota kecil yang mayoritas bangunannya bergaya gothic itu. Orang-orang memenuhi jalan untuk menyaksikan kuda yang diarak masing-masing contrada mengelilingi kota. Dibelakangnya, pasukan yang terdiri dari barisan pria berbaju jirah, diikuti dengan pemegang umbul-umbul contrada lalu barisan pria yang memainkan bendera berjalan dengan diiringi genderang yang dipukul bertalu-talu. Di akhir barisan, para contradioli akan mengikuti mereka sembari menyanyikan lagu kebangsaan contrada. Kegembiraan dan pengharapan terpampang jelas di wajah mereka, tak ada yang lebih penting hari itu selain menangnya contrada mereka pada pacuan yang akan diselenggarakan tak lama lagi.

Pintu terakhir menuju Piazza Il Campo, tempat dilaksanakannya Palio ditutup tepat pukul 17.00. Saya harus berjuang dengan ratusan orang lainnya agar saya bisa masuk ke dalam piazza dan mendapat tempat yang strategis sehingga saya dapat melihat pertandingan dengan jelas. Setelah berdesak-desakan sekitar lima belas menit, akhirnya saya dapat memasuki bagian tengah piazza bersama sekitar 50.000 orang lainnya. Bagi yang sudah di dalam arena, maka dia harus bertahan hingga pertandingan selesai karena semua akses keluar masuk piazza akan ditutup rapat untuk prosesi acara menjelang pacuan kuda. Suasana semakin lama semakin memanas. Masing-masing pendukung meneriakkan yel-yel dan terus bernyanyi. Keributan rawan terjadi, hal-hal kecil dapat memancing amarah contradioli. Selama kurang lebih dua jam saya berdiri disana, terhituang ada lima pertengkaran tersulut, untungnya ada carabinieri (tentara) yang selalu berjaga di tepi lapangan. Arak-arakan masing-masing contrada mulai memasukki piazza. Para pembawa bendera menunjukkan kebolehannya melemparkan bendera yang tak terbayang beratnya. Sorakan riuh para penonton mengiringi ketika dua orang pemegang bendera saling melempar benderanya tinggi-tinggi, bersilangan di udara, dan pada akhirnya bendera jatuh tepat di tangan sang pelempar. Iringin-iringan terus memutari piazza hingga akhirnya, sebagai penutup, drappellone, lambang supremasi yang disediakan untuk pemenang hari itu diarak mengelilingi piazza diriringi sorakan penonton.

Tepat pukul tujuh malam, kuda-kuda pacuan beserta joki berdiri teratur di belakang tambang pembatas garis start. Pada saat terompet berbunyi, dada saya seakan berhenti berdegup melihat kuda-kuda yang melaju secepat kilat. Suasanya semakin meriah tatkala masing-masing pendukung meneriakkan contrada jagoannya. Sebaiknya Anda jangan memalingkan pandangan dari kuda-kuda yang sedang bertanding, karena mereka hanya mengelilingi piazza sebanyak tiga kali. Hanya dalam waktu satu menit setengah, selesailah pacuan ini, kesempatan untuk menyaksikan contrada yang keluar sebagai pemenang dapat terlewatkan. Untuk perlombaan kali ini, menanglah Leocorno, contrada yang konon selalu dihampiri keberuntungan.

Entah mengapa saya memiliki perasaan buruk, setelah pertandingan dinyatakan selesai segera saya berlari keluar dari piazza dan menjauhi kerumunan yang mulai berhamburan menghampiri sang pemenang. Benar saja, dari kejauhan saya mendengar suara botol-botol yang dipecahkan berbaur dengan suara teriakan kecewa pendukung contrada yang dinyatakan kalah. Tak lama berselang, ratusan contradioli dari pihak yang kalah, laki-laki dan perempuan berlari sembari menangis dan meneriakkan “Non e’ possibile (tidak mungkin)” secara berulang-ulang. Tanpa dikomando, saya langsung menepi memberi mereka jalan. Agak heran saya melihat ada pemuda gagah yang berlari sambil menangis. Namun pada Palio, semuanya menjadi mungkin.

Di sisi lain, pasukan contradioli Leocorno sedang merayakan kemenangannya. Kemenangan yang mereka persiapkan dan harapkan selama setahun penuh. Hasil perjuangan para panitia palio untuk mengatur strategi dan memilih joki yang handal. Suara teriakan kemenangan dan lagu kemenangan bercampur menjadi satu mengisyaratkan kebahagiaan dan kegembiraan yang tak terperi. Hari itu, sang joki menjadi bintangnya. Diangkat ke udara oleh berpuluh-puluh orang dan disandingkan dengan drappellone yang untuk selanjutnya akan dipajang di musium contrada dan akan menjadi kebanggaan mereka selama sisa tahun berjalan.

Belum pernah saya melihat luapan kegembiraan, kemarahan, dan kesedihan yang bercampur pada satu hari sekaligus. Apa yang menjadi impian mereka selama satu tahun ini terjawab sudah. Bagi contrada yang keluar menjadi pemenang, dapat terbayang kelanjutannya: la festa della contrada (pesta contrada) selama tiga bulan penuh akan menghiasi hari-hari mereka. Makan malam di meja-meja panjang yang dihadiri seluruh contradioli, limpahan anggur khas Toscana, dan proscuito (ham) yang menggugah selera tak alpa dari agenda mereka. Bagi yang kalah, akan selalu ada harapan menjadi pemenang di tahun-tahun mendatang. Pada saat ini, yang terpenting adalah kembali mengatur strategi sehingga pada pertandingan yang akan datang, mereka lah yang akan membawa pulang drappelloei ke musium mereka. [isthi]

http://ureport.vivanews.com/news/read/10927-hati_dan_jiwa_para_senese

June 19, 2008

PP No. 2 Tahun 2008, Sebuah Legalisasi Pengalihan Fungsi Lahan Hutan Lindung

Posted in Uncategorized tagged at 1:31 am by cocomerina

Pada bulan April 2008, Pemerintah akhirnya mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 28 yang berisi tentang jenis dan tarif atas penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari kawasan hutan untuk kepetingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan. Jika kita hendak melihat bentuk sederhana dari peraturan tersebut, maka kita dapat menganalogikan dengan tuan tanah yang menyewakan lahan miliknya kepada pihak kedua dan pada akhirnya tuan tanah akan menerima kompensasi dari aktivitas sewa menyewa tersebut.

Banyak pihak yang pada akhirnya menentang disahkannya undang-undang tersebut. Anggapan yang tersebar di masyarakat dan para penggiat konservasi adalah betapa pemerintah tidak peka akan semakin kritisnya kondisi hutan lindung di negeri ini. Pemerintah dirasa tidak konsisten dengan semangat memerangi pemanasan global, terlebih kita telah menjadi tuan rumah untuk Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Untuk Perubahan Iklim yang berlangsung di Bali, akhir tahun 2007.

Presiden RI, Bambang Susilo Yudhoyono, mengungkapkan pada lembaga berita Antara bahwa tujuan diterbitkannya PP ini justru untuk meminimalisasi kerusakan hutan yang memang sudah sangat mengkhawatirkan. PP No. 2 tahun 2008 merupakan lanjutan dari PP 1/2004 sebagai revisi UU 41/1999 yang ditindaklanjuti oleh Kepres 41/2004 yang diterbitkan pada masa pemerintahan mantan Presiden Megawati. PP tersebut mengatur izin bagi 14 perusahaan tambang untuk beroperasi di kawasan hutan lindung.

Agar penggunaan lahan hutan lindung lebih terorganisasi, ditambah lagi tidak adanya dana pada pemerintah untuk merehabilitasi hutan lindung yang sudah rusak, maka dikeluarkanlah peraturan ini. Diharapkan hasil kompensasi yang masuk ke pemerintah dapat dipergunakan untuk merehabilitasi wilayah hutan lindung lain yang rusak.

Kendati tujuan yang melandasi terbitnya PP ini adalah upaya memerangi kerusakan hutan yang lebih parah lagi, namun dengan dikeluarkannya PP ini, pemerintah seakan melegalisasi pengubahan lahan hutan lindung dan konservasi untuk kepentingan pembangunan di luar kehutanan asalkan membayar kompensasi yang ditetapkan. Pada PP sebelumnya, izin pinjam pakai kawasan hutan selalu dibarengi kewajiban perusahaan untuk mencari areal pengganti atas lahan yang mereka gunakan. Disebabkan semakin sulitnya mencari lahan untuk areal pengganti, maka pemerintah menetapkan kompensasi tersebut.

Yang harus disadari adalah laju deforestasi hutan-hutan di Indonesia semakin lama semakin cepat. Apabila alih-alih para pengusaha mencari lahan pengganti mereka malah membayar kompensasi, maka bisa kita bayangkan bersama berapa banyak hutan yang akan terbuka karena itu semua dapat digantikan dengan uang.

Apabila pemerintah tidak mencabut PP ini, maka bersiaplah untuk menghadapi bencana ekologis yang lebih hebat di masa yang akan datang. Dikhawatirkan PP ini hanya akan menjadi fasilitator utama yang akan mendatangkan bencana akibat laju degradasi hutan yang semakin tidak terkendali akibat diciptakannya penyelesaian akan masalah sulitnya para pengusaha untuk mencari areal pengganti.

May 22, 2008

100 Tahun Kebangkitan Nasional RI

Posted in Uncategorized at 1:36 am by cocomerina

Pak ABC, seorang pejabat tinggi di negeri tercinta ini sedang mengadakan lawatan ke salah satu daerah pinggiran Jakarta. Pada kesempatan kali ini Pak ABC mewawancarai Pak EFG, salah seorang pekerja serabutan yang tinggal di daerah tersebut. Sayangnya Pak EFG ini suka dodol … suka ga nyambung … ditanya ini jawabnya itu … kita simak aja hasil wawancara selengkapnya.

ABC: “Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Saya makan 1 kali sehari, 2 sehat tidak sempurna Pak.”

ABC: “Saya ulangi pertanyaannya: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Terkadang saya dan anak makan nasi aking Pak.”

ABC: “Saya tidak puas dengan jawaban Bapak, baik saya ulangi lagi pertanyaannya: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Anak-anak saya putus sekolah karena saya tidak sanggup membayar biaya sekolah dan membeli buku yang diwajibkan oleh pihak sekolah Pak.”

ABC: “Wa … jawaban Bapak semakin ngawur, saya ulangi lagi ya Pak, Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Jangankan untuk sekolah Pak, anak saya, si Joko … kemarin nyaris meninggal dunia akibat saya tidak bisa membelikan mereka makanan … kata Bu Mantri sih kena … mmmm apa itu gizi buruk ya Pak?”

ABC: “Aduuh Bapak … coba simak pertanyaan saya baik-baik! Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Anak saya yang tertua sekarang sudah meninggal Pak … dua tahun lalu dia jadi korban tabrak lari … saya sudah coba bawa ke rumah sakit dekat2 sini ditolak … karena peralatannya tidak lengkap, lalu saya bawa ke rumah sakit di ujung jalan sana … ditolak juga karena mereka minta uang buat depeh … saya ga punya uang Pak … akhirnya puteri saya yang paling cantik itu mati begitu saja dipangkuan saya.”

ABC: “Bapak jangan mempermainkan saya ya … SEKALI LAGI SAYA ULANG PERTANYAAN SAYA: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Istri saya sekarang sering mengeluh pegal-pegal Pak … tulangnya terasa rontok katanya … pas saya tanya kenapa dia bilang: “Aduuuh Pa’e … aku sudah ndak kuat lagi cari kayu bakar … sampean kan sudah tau hutan da ndak ada lagi disini … da ditebangin … jadinya aku harus jalan juauuuh buanggget … aku ndak tahan lagi Pa’e. Pas saya tanya: “Lo … kamu kenapa repot-repot cari kayu? liat itu di tipinya Pak Lurah … bukannya pemerintah bagi-bagi botol warna hijau itu Bu’e … katanya bisa buat masak … canggih kan itu alat”. Tapi istri saya bilang lagi ke saya: ” walah dalah Pa’e … kita ga kebagian Pa’e … sudah diambil Bu Lurah semua … dia dapet 5 botol tuh ta’ liat kemarin.”

ABC: “Bapak itu meracau saja kerjanya: INI YANG TERAKHIR KALI YA PAK … SAYA ULANGI: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “sebentar lagi BBM naik Pak … penghasilan saya yang cuma 15.000 sehari, mana bisa menutupi kebutuhan rumah tangga. Terpaksa saya minta si Andi, si Joko, dan si Siti anak-anak saya buat jualan koran di perempatan jalan sana … ya Alhamdulillah mereka tiap hari bisa bawa uang 5.000 perak tiap anak. lumayan kan Pak … kami bisa makan nasi perak, tempe, dan sambel terasi huuuuaaa nikmat Pak. Tapi saya ga tau nih Pak setelah BBM naik … kami bisa makan nasi, tempe sama sambel ga ya Pak … la wong harga cabe sekilo aja sekarang saya denger dari tukang sayur sudah 40 ribu … walah walah … nyambel aja kok mahal … gimana daging ayam ya Pak … huahuahua (tertawa terbahak-bahak).”

ABC: “PAK EFG … saya LELAH dengan Bapak … jawaban Bapak melantur kesana kesini … ga beres … warga negara macam apa Bapak ini … malu-maluin saya sebagai pejabat.”

EFG: “BAPAK!!!! pejabat macam apa Bapak ini … tingkah laku Bapak dan penggede2 lainnnya melantur kesana-kesini. Saya tidak puas dengan kinerja Bapak dan tim selama ini … kebijakan2nya semakin lama semakin ngawur. katanya pembela rakyat tapi kerjanya hanya mempermainkan rakyat dan meracau ga jelas supaya kami anggap Bapak dan tim itu orang hebat. Apa Bapak ga sadar kalau kami JUGA LELAH dengan Bapak … yang ga pernah malu make duit rakyat, terima suap, pake fasilitas2 nomor satu dan mobil2 mengilap sementara kami bisa makan 3 kali sehari pakai tempe dan sambel saja sudah senangnya setengah mati. Dasar … pejabat macam apa Bapak ini?”

May 19, 2008

Starting From June, 2008

Posted in Uncategorized tagged at 6:55 am by cocomerina

Mei 2008

  • Gaji saya + suami: Pas-pasan
  • Pengeluaran : Cicilan rumah, Listrik, cicilan peralatan rumah tangga, bensin untuk suami, iuran bulanan, belanja bulanan, uang makan kami berdua.
  • Saving : Rp. 0,- (terkadang malah kasbon ke orang tua)

Juni 2008

  • Gaji saya + suami: kurang (jumlah yang diterima dari perusahaan tidak berubah)
  • Pengeluaran : Cicilan rumah, Listrik (diprediksikan budget akan segera menigkat), cicilan peralatan rumah tangga, bensin untuk suami (budget meningkat), iuran bulanan, belanja bulanan (budget meningkat), uang makan kami berdua (mau tidakmau budget meningkat).
  • Saving : Rp. – (Devisit beberapa ratus ribu akibat naiknya anggaran belanja rumah tangga).
  • BLT : Tidak dapat

Siapa yang bilang jika kenaikan harga BBM tidak mempengaruhi angka kemiskinan di negeri tercinta ini?

May 7, 2008

Semena-mena Dan Bodoh-Bodohan

Posted in Uncategorized tagged at 10:00 am by cocomerina

-Ini murni curahan hati-

May Day baru saja lewat tapi buat saya masih menyisakan ganjalan di hati. Tingginya angka pengangguran dan harga kebutuhan ekonomi yang semakin mencekik menjadikan banyak perusahaan semena-mena terhadap karyawannya. Karena kami sebagai pekerja tidak punya pilihan akhirnya kami terpaksa menerima menjalani semua ini … mungkin kata-kata kasarnya: “Kalau lo ga terima diginiin … yaudah … masih ada ratusan bahkan ribuan orang yang mengantri untuk menggantikan posisi lo”

Belakangan ini saya memerhatikan hubungan orang-orang yang dekat dengan saya dengan perusahaan mereka atau mantan perusahaan mereka. Dan semakin saya memerhatikan, ternyata saya semakin merasa betapa tidak berfungsinya UU Ketenagakerjaan di negeri kita.

Sebut saja kejadian yang menimpa suami saya. Ia resign dari perusahaannya yang lama, Optima, sebuah perusahaan Media Specialist di bilangan Gatot Subroto. Suami biasanya gajian setiap tanggal 25 tiap bulannya. Lalu Suami resmi mengundurkan diri per tanggal 3. Dalam bayangan saya, harusnya dia mendapatkan bayaran dari selisih hari dari tanggal 25-3 di bulan berikutnya. Namun Keuangan di perusahaan tersebut menyebutkan jika tidak ada yang bisa diperhitungkan karena memang sebenarnya cut off date pay roll di tempat mereka itu tanggal 30 dan mereka sengaja memajukan tanggal gajian mereka ke tanggal 25 (kind a weird). Lalu pihak keuangan tersebut menjelaskan jika ada yang mau diperhitungkan ya paling cuti yang dicairkan, lalu ia menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan mencairkan hari cuti. Namun … seperti yang dibayangkan … itu semua sekadar wacana. Ketika suami menanyakan lebih lanjut bagaimana prosedurnya … mereka malah menjawab … SORRY YOU’RE LATE … seharusnya pada waktu membuat surat pengunduran diri suami memundurkan waktunya sekian hari sisa cuti tersebut. Lah … yang membuat saya tidak habis pikir … kemana saja perusahaan itu sehingga pada saat suami mengajukan resignation letter tidak diinformasikan jika ada haknya yang bisa diurus. Kenapa baru diberi tahu pada saat semuanya sudah terlambat? Memang di perusahaan tersebut tidak ada aturan ketenagakerjaan yang dapat mengantisipasi hal2 seperti ini? tipe perusahaan yang seperti ini yang saya sebut dengan bodoh-bodohan.

Permasalahan tidak berhenti disitu saja. Di perusahaan tempat suami bekerja yang baru ini, sebuah advertising agency dari Jepang dibilangan Senayan, jika suami telat satu menit saja uang makannya akan dipotong Rp. 10 ribu. Jam kerjanya dari pukul 8.00-17.00 (teorinya), tapi sampai saat ini, belum pernah tuh suami saya pulang jam 5 teng … selalu minimal jam 7 malam, dengan alasan: namanya juga agency. Yang jadi permasalahan adalah … kok bisa suami telat satu menit dipotong 10 ribu sedangkan “over time” minimal 2 jam tidak diperhitungkan sama sekali. Tipe seperti ini saya sebut dengan perusahaan yang semena-mena.

Ada teman dekat saya yang resign karena dapat pekerjaan baru di perusahaan yang lebih menjanjikan. Namun tidak disangka ternyata the owner of the company tidak menerima pengunduran diri teman saya dan akhirnya dengan kejamnya mereka tidak membayarkan gaji terakhir teman saya tersebut (gila ya … jaman sekarang mengambil hak orang sudah dianggap lazim). Yang ini saya sebut dengan sangat semena-mena.

Ada banyak perusahaan yang bisanya hanya menuntut kinerja yang maksimal dari karyawannya namun tidak pernah berfikir apakah mereka sudah melaksanakan kewajiban mereka untuk memenuhi hak karyawan mereka atau belum. Gaji yang di bawah standar, kesejahteraan yang dibawah rata-rata, atau tidak dibayarkannya hak-hak pekerja merupakan makanan sehari-hari dari banyak karyawan yang ada di negeri ini. Lalu … apakah penyimpangan2 itu wajar adanya? sepertinya UU Ketenagakerjaan hanya sekadar pajangan di meja kerja HRD … ga ada fungsinya!

April 14, 2008

Farewell Words

Posted in Uncategorized at 6:39 am by cocomerina

Ada salah satu teman sekantor saya yang memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama 3 bulan. Pada saat saya tanya berapa persen kemungkinan dia akan kembali, dia menjawab: “Ga tau aku … mungkin balik ke Jakarta, kerja di tempat lain, atau balik ke Serambi … aku ga tau … tapi yang pasti selepas 3 bulan itu aku harus lebih baik dari sekarang,” jawabnya.

Ini iri no. 2 setelah si M(*^(&*^0 itu!

April 3, 2008

Betapa Irinya Aku Padamu ….

Posted in Uncategorized tagged at 11:04 am by cocomerina

Sebetulnya, jumlah pelajar yang masuk ke dalam kloter terakhir tahun 2007 di Siena itu ada 4 orang. Saya dan kedua teman perempuan saya, ditambah satu orang pelajar laki2 bernama M(*&(*^%o. Sebenarnya dari awal karena satu dan lain hal kami (tiga perempuan ini) tidak terlalu sreg sama dia. Alhasil selama ini Siena pun kami tidak terlalu menganggap dia ada karena kami anggap kelakuannya suka merepotkan orang lain (jahat ya).

Hubungan kami bisa dibilang tidak harmonis … hingga saya menjejakkan kaki saya di Fiumicino, Roma, untuk pulang … tidak terfikir tuh bagi saya untuk menghubungi dia dan mengabarkan kepulangan kami ke Indonesia.

Minggu lalu … saya dapat informasi dari teman satu angkatan dari kota lain bahwa teman saya si M^(*&^*&o itu masih berada di Siena dan bekerja pada sebuah hotel di sana. Ketika teman saya itu sedikit berkeluh kesah tentang keberadaan M*&%^*%o itu yang masih di Siena … saya malah bilang: “Wa … keren ya si M(&^&^*o itu … gw iri deh”

Hehehehe terlepas keberadaannya di sana yang telah menyulitkan beberapa orang, termasuk KBRI Roma, saya kagum dan iri dengan kebulatan tekadnya untuk tetap stay di sana. Tinggal di Italia mungkin jadi mimpi kami; M(&^(&^(0, kedua teman saya, termasuk saya. Kalau boleh jujur semasa masih di Indonesia saya sudah berniat cari kerja di sana, jadi apa saja boleh lah untuk permulaan … namun toh saya tidak seberani si M*&^*&%^0 itu. Alhasil, hingga kini saya menyesali ketidakberanian saya untuk mencoba mencari link2 agar saya bisa bekerja di sana.

Mungkin bukan permasalahan Italia, atau bekerja diluar negeri … tapi banyak hal yang membuat saya melepaskan satu kesempatan karena malu, tidak enak, tidak berani atau tidak pede hhhmmm dan agaknya ini sudah mendarah daging pada diri saya.

My dear M(*^&(&^o (terlepas kau memang telah menyusahkan beberapa orang) … sejujurnya aku iri padamu … yang punya tekat begitu kuat dan keberanian untuk mewujudkan mimpi2 mu ….

-Orang yang iri itu tanpa sadar sebenarnya memuji (sand and foam-Khalil Gibran)-

April 2, 2008

Korban Mode

Posted in Uncategorized tagged at 5:08 am by cocomerina

Akhirnya … saya memutuskan untuk membaca Laskar Pelangi yang terhitung menghebohkan dunia perbukuan di Indonesia akhir-akhir ini.

Sering saya mengalami hal ini … disebabkan berita “bagusnya” sebuah buku terdengar dimana2 … akhirnya saya memutuskan untuk membaca (bahkan membeli) suatu buku. Tidak banyak yang pada akhirnya memuaskan … tapi saya setuju jika worth of mouth itu merupakan konsep pemasaran yang bagus.

Next page