Archive for Uncategorized

IL Palio–Hati Dan Jiwa Para Senese

Jika Anda pergi ke Siena, kota kecil nan cantik di wilayah Toscana, Itali, maka tak lengkap rasanya jika Anda tidak menyaksikan Il Palio, Pacuan kuda khas Siena yang sudah diselenggarakan semenjak awal abad XI. Sebelumnya, saya telah membaca beberapa referensi mengenai Palio dari buku-buku grammar bahasa Itali yang saya temukan di perpustakaan Pusat Kebudayaan Italia, Kuningan, Jakarta Selatan. Kala itu saya menganggap jika Palio tak lain merupakan salah satu usaha pemerintah setempat untuk menarik perhatian lebih banyak turis untuk mengunjungi Siena. Namun, setelah saya melihat Palio dengan mata kepala sendiri, saya menyimpulkan jika Palio lebih dari sekadar atraksi budaya yang dipersembahkan untuk para turis, namun lebih kepada jiwa dan hati para Senese, warga Siena.

Saya menjejakkan kaki di kota yang serupa hamparan batu bata berwarna merah keemasan di tengah padang rumput, wine yard, dan rentetan pohon zaitun ini tepat dua hari sebelum pertandingan dimulai. Segera setelah saya memasuki pusat kota, atmosfer berpesta pun mulai terasa. Para penduduk lokal berbaur dengan turis asing dari mancanegara dan memenuhi setiap sudut kota. Dari piazza hingga ke kafe-kafe yang menyuguhkan cappuccino khas Itali, dari via (jalan besar) hingga ke vicollo (gang kecil). Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya menyatu menikmati gegap gempita menjelang diselenggarakannya Palio. Gedung-gedung dan apartemen disepanjang jalan dihiasi oleh bendera-bendera dari masing-masing contrada.

Yang menjadi penggerak akan pertandingan akbar ini adalah 17 contrada yang ada di Siena, yaitu sebuah sistem pembagian admisntrasi wilayah yang sudah dibentuk semenjak abad pertengahan yang terdiri dari: Aquila (Elang), Bruco (Ulat Bulu), Chicciola (Keong), Civetta (Burung Hantu), Drago (Naga), Giraffa (Jerapah), Istrice (Landak), Leocorno (Unicorn), Lupa (Serigala Betina), Nicchio (Kerang), Oca (Angsa), Onda (Ombak), Pantera (Harimau Kumbang), Selva (Hutan), Tartuca (Kura-Kura), Torre (Menara), dan Valdimonte (Biri-Biri Jantan). Contrada awalnya dibangun untuk mendukung pasukan militer yang disewa untuk mempertahankan kemerdekaan Siena dari Florence dan kota-kota disekitarnya. Semakin lama, contrada semakin kehilangan fungsi administratifnya dan pada akhirnya menjadi satu wilayah yang mengorganisasi penduduknya dimana emosi dan kesetiaan tercurah.

Bisa dibilang contrada telah menguasai kehidupan para contradaioli (sebutan untuk penduduk contrada); kelahiran, pembaptisan, pernikahan, hingga kematian. Contrada selalu hadir dalam kehidupan mereka. Sedari lahir anak-anak sudah diperkenalkan dengan contradanya, dan seiring berjalannya waktu, kecintaan dan kesetiaan mereka semakin tumbuh pada contrada mereka. Hal ini semakin terlihat jelas pada saat pelaksanaan Palio, masing-masing contradioli mulai terhipnotis dengan suasana menjelang pertandingan. Lupakan teman, sahabat, bahkan pasangan hidup, saat ini … kemenangan contradanya menjadi yang utama.

Persiapan masing-masing contrada untuk menghadapi pertandingan ini sudah dimulai sejak jauh-jauh hari. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memilih il Capitano (Kapten) mereka. Sang kapten lah yang akan mengurus keuangan contrada, menyusun strategi perang untuk palio nantinya, dan yang akan memimpin pasukan pada Palio di medan perang. Lalu ada Barbaresco, seseorang yang bertugas untuk menjaga kuda yang akan mereka gunakan untuk bertanding. Tugas selanjutnya adalah memilih Comparsa, barisan pemuda yang akan menggunakan kostum khas contrada sebelum pertandingan dimulai. Ada dua bagian comparsa yang paling penting yang harus dipilih, barisan yang akan membawa umbul-umbul contrada, atau yang disebut dengan il piaggio maggiore dan il duce, barisan yang akan menggunakan pakaian perang a la abad pertengahan yang menggambarkan betapa megahnya contrada mereka.

Untuk beberapa bulan kedepan, orang-orang yang beruntung tersebut akan mempersembahkan setiap waktu luang yang mereka miliki untuk merencanakan pengaturan posisi, berlatih melempar bendera, dan meningkatkan kemampuan memukul genderang yang akan menyertai pawai contrada mengelilingi pusat kota sebelum pacuan dimulai. Dari sinilah perjuangan dan harapan mereka dimulai.

Tiga hari sebelum Palio dimulai, diadakan sebuah undian yang akan menentukan kuda mana yang akan digunakan oleh masing-masing contrada. Undian ini merupakan penentu takdir mereka, karena menang kalahnya mereka dalam pacuan tersebut akan ditentukan oleh kuda seperti apa yang mereka akan dapatkan. Maka pada hari itu akan terpilih sepuluh kuda beruntung yang akan berlaga di tahun itu. Ya … Anda benar, sepuluh kuda. Setiap pertandingan hanya ada sepuluh contrada yang akan bertanding, alasannya adalah: arena pacuannya terlalu kecil jika harus digunakan untuk tujuh belas kuda. Maka dari itu, Il Palio di selenggarakan dua kali setiap tahunnya, 2 Juli dan 16 Agustus. Pertandingan 2 Juli dipersembahkan untuk Madona Provenzano dan pertandingan yang diselenggarakan pada 16 Agustus dipersembahkan untuk Sang perawan Maria. Tiap tahunnya sudah ditetapkan sepuluh contrada yang akan bertanding di bulan Juli, sedangkan pada bulan Agustus, akan ada tiga contrada beruntung yang dapat mengikuti kembali pertandingan bulan ini melalui proses undian. Dalam hal ini, contrada Leocorno terkenal dengan keberuntungannya, karena bisa dipastikan tiap kali undian dilaksanakan nama Leocorno selalu menjadi salah satunya.

Setelah masing-masing contrada memiliki kudanya untuk bertanding, maka akan dilaksanakan pertandingan percobaan sebanyak enam kali sehingga para il fantino (joki) dapat menyesuaikan diri dengan kuda-kuda yang akan mereka tunggangi. Pada sesi percobaan ini suasana kerap memanas. Yang menarik dari pertandingan ini, Palio ternyata kerap dibumbui oleh permainan politik antarcontrada, suap menyuap agar seorang joki dari contrada lawan menyerah, hingga usaha yang sedikit konyol, yaitu dengan memberikan obat pencahar sehingga pada saatnya kuda lawan tidak dapat bertanding. Hal ini akan berlangsung hingga detik terakhir pacuan, jika pada saat terakhir sang joki mendapatkan penawaran harga yang pas dari contrada lawan, maka bisa dibayangkan … dia tak harus berjuang dengan keras untuk memenangkan pertandingan kali itu.

Semakin mendekati acara puncak suasana semakin meriah. Semua orang terpusat di kota kecil yang mayoritas bangunannya bergaya gothic itu. Orang-orang memenuhi jalan untuk menyaksikan kuda yang diarak masing-masing contrada mengelilingi kota. Dibelakangnya, pasukan yang terdiri dari barisan pria berbaju jirah, diikuti dengan pemegang umbul-umbul contrada lalu barisan pria yang memainkan bendera berjalan dengan diiringi genderang yang dipukul bertalu-talu. Di akhir barisan, para contradioli akan mengikuti mereka sembari menyanyikan lagu kebangsaan contrada. Kegembiraan dan pengharapan terpampang jelas di wajah mereka, tak ada yang lebih penting hari itu selain menangnya contrada mereka pada pacuan yang akan diselenggarakan tak lama lagi.

Pintu terakhir menuju Piazza Il Campo, tempat dilaksanakannya Palio ditutup tepat pukul 17.00. Saya harus berjuang dengan ratusan orang lainnya agar saya bisa masuk ke dalam piazza dan mendapat tempat yang strategis sehingga saya dapat melihat pertandingan dengan jelas. Setelah berdesak-desakan sekitar lima belas menit, akhirnya saya dapat memasuki bagian tengah piazza bersama sekitar 50.000 orang lainnya. Bagi yang sudah di dalam arena, maka dia harus bertahan hingga pertandingan selesai karena semua akses keluar masuk piazza akan ditutup rapat untuk prosesi acara menjelang pacuan kuda. Suasana semakin lama semakin memanas. Masing-masing pendukung meneriakkan yel-yel dan terus bernyanyi. Keributan rawan terjadi, hal-hal kecil dapat memancing amarah contradioli. Selama kurang lebih dua jam saya berdiri disana, terhituang ada lima pertengkaran tersulut, untungnya ada carabinieri (tentara) yang selalu berjaga di tepi lapangan. Arak-arakan masing-masing contrada mulai memasukki piazza. Para pembawa bendera menunjukkan kebolehannya melemparkan bendera yang tak terbayang beratnya. Sorakan riuh para penonton mengiringi ketika dua orang pemegang bendera saling melempar benderanya tinggi-tinggi, bersilangan di udara, dan pada akhirnya bendera jatuh tepat di tangan sang pelempar. Iringin-iringan terus memutari piazza hingga akhirnya, sebagai penutup, drappellone, lambang supremasi yang disediakan untuk pemenang hari itu diarak mengelilingi piazza diriringi sorakan penonton.

Tepat pukul tujuh malam, kuda-kuda pacuan beserta joki berdiri teratur di belakang tambang pembatas garis start. Pada saat terompet berbunyi, dada saya seakan berhenti berdegup melihat kuda-kuda yang melaju secepat kilat. Suasanya semakin meriah tatkala masing-masing pendukung meneriakkan contrada jagoannya. Sebaiknya Anda jangan memalingkan pandangan dari kuda-kuda yang sedang bertanding, karena mereka hanya mengelilingi piazza sebanyak tiga kali. Hanya dalam waktu satu menit setengah, selesailah pacuan ini, kesempatan untuk menyaksikan contrada yang keluar sebagai pemenang dapat terlewatkan. Untuk perlombaan kali ini, menanglah Leocorno, contrada yang konon selalu dihampiri keberuntungan.

Entah mengapa saya memiliki perasaan buruk, setelah pertandingan dinyatakan selesai segera saya berlari keluar dari piazza dan menjauhi kerumunan yang mulai berhamburan menghampiri sang pemenang. Benar saja, dari kejauhan saya mendengar suara botol-botol yang dipecahkan berbaur dengan suara teriakan kecewa pendukung contrada yang dinyatakan kalah. Tak lama berselang, ratusan contradioli dari pihak yang kalah, laki-laki dan perempuan berlari sembari menangis dan meneriakkan “Non e’ possibile (tidak mungkin)” secara berulang-ulang. Tanpa dikomando, saya langsung menepi memberi mereka jalan. Agak heran saya melihat ada pemuda gagah yang berlari sambil menangis. Namun pada Palio, semuanya menjadi mungkin.

Di sisi lain, pasukan contradioli Leocorno sedang merayakan kemenangannya. Kemenangan yang mereka persiapkan dan harapkan selama setahun penuh. Hasil perjuangan para panitia palio untuk mengatur strategi dan memilih joki yang handal. Suara teriakan kemenangan dan lagu kemenangan bercampur menjadi satu mengisyaratkan kebahagiaan dan kegembiraan yang tak terperi. Hari itu, sang joki menjadi bintangnya. Diangkat ke udara oleh berpuluh-puluh orang dan disandingkan dengan drappellone yang untuk selanjutnya akan dipajang di musium contrada dan akan menjadi kebanggaan mereka selama sisa tahun berjalan.

Belum pernah saya melihat luapan kegembiraan, kemarahan, dan kesedihan yang bercampur pada satu hari sekaligus. Apa yang menjadi impian mereka selama satu tahun ini terjawab sudah. Bagi contrada yang keluar menjadi pemenang, dapat terbayang kelanjutannya: la festa della contrada (pesta contrada) selama tiga bulan penuh akan menghiasi hari-hari mereka. Makan malam di meja-meja panjang yang dihadiri seluruh contradioli, limpahan anggur khas Toscana, dan proscuito (ham) yang menggugah selera tak alpa dari agenda mereka. Bagi yang kalah, akan selalu ada harapan menjadi pemenang di tahun-tahun mendatang. Pada saat ini, yang terpenting adalah kembali mengatur strategi sehingga pada pertandingan yang akan datang, mereka lah yang akan membawa pulang drappelloei ke musium mereka. [isthi]

Leave a comment »

PP No. 2 Tahun 2008, Sebuah Legalisasi Pengalihan Fungsi Lahan Hutan Lindung

Pada bulan April 2008, Pemerintah akhirnya mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 28 yang berisi tentang jenis dan tarif atas penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari kawasan hutan untuk kepetingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan. Jika kita hendak melihat bentuk sederhana dari peraturan tersebut, maka kita dapat menganalogikan dengan tuan tanah yang menyewakan lahan miliknya kepada pihak kedua dan pada akhirnya tuan tanah akan menerima kompensasi dari aktivitas sewa menyewa tersebut.

Banyak pihak yang pada akhirnya menentang disahkannya undang-undang tersebut. Anggapan yang tersebar di masyarakat dan para penggiat konservasi adalah betapa pemerintah tidak peka akan semakin kritisnya kondisi hutan lindung di negeri ini. Pemerintah dirasa tidak konsisten dengan semangat memerangi pemanasan global, terlebih kita telah menjadi tuan rumah untuk Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Untuk Perubahan Iklim yang berlangsung di Bali, akhir tahun 2007.

Presiden RI, Bambang Susilo Yudhoyono, mengungkapkan pada lembaga berita Antara bahwa tujuan diterbitkannya PP ini justru untuk meminimalisasi kerusakan hutan yang memang sudah sangat mengkhawatirkan. PP No. 2 tahun 2008 merupakan lanjutan dari PP 1/2004 sebagai revisi UU 41/1999 yang ditindaklanjuti oleh Kepres 41/2004 yang diterbitkan pada masa pemerintahan mantan Presiden Megawati. PP tersebut mengatur izin bagi 14 perusahaan tambang untuk beroperasi di kawasan hutan lindung.

Agar penggunaan lahan hutan lindung lebih terorganisasi, ditambah lagi tidak adanya dana pada pemerintah untuk merehabilitasi hutan lindung yang sudah rusak, maka dikeluarkanlah peraturan ini. Diharapkan hasil kompensasi yang masuk ke pemerintah dapat dipergunakan untuk merehabilitasi wilayah hutan lindung lain yang rusak.

Kendati tujuan yang melandasi terbitnya PP ini adalah upaya memerangi kerusakan hutan yang lebih parah lagi, namun dengan dikeluarkannya PP ini, pemerintah seakan melegalisasi pengubahan lahan hutan lindung dan konservasi untuk kepentingan pembangunan di luar kehutanan asalkan membayar kompensasi yang ditetapkan. Pada PP sebelumnya, izin pinjam pakai kawasan hutan selalu dibarengi kewajiban perusahaan untuk mencari areal pengganti atas lahan yang mereka gunakan. Disebabkan semakin sulitnya mencari lahan untuk areal pengganti, maka pemerintah menetapkan kompensasi tersebut.

Yang harus disadari adalah laju deforestasi hutan-hutan di Indonesia semakin lama semakin cepat. Apabila alih-alih para pengusaha mencari lahan pengganti mereka malah membayar kompensasi, maka bisa kita bayangkan bersama berapa banyak hutan yang akan terbuka karena itu semua dapat digantikan dengan uang.

Apabila pemerintah tidak mencabut PP ini, maka bersiaplah untuk menghadapi bencana ekologis yang lebih hebat di masa yang akan datang. Dikhawatirkan PP ini hanya akan menjadi fasilitator utama yang akan mendatangkan bencana akibat laju degradasi hutan yang semakin tidak terkendali akibat diciptakannya penyelesaian akan masalah sulitnya para pengusaha untuk mencari areal pengganti.

Leave a comment »

100 Tahun Kebangkitan Nasional RI

Pak ABC, seorang pejabat tinggi di negeri tercinta ini sedang mengadakan lawatan ke salah satu daerah pinggiran Jakarta. Pada kesempatan kali ini Pak ABC mewawancarai Pak EFG, salah seorang pekerja serabutan yang tinggal di daerah tersebut. Sayangnya Pak EFG ini suka dodol … suka ga nyambung … ditanya ini jawabnya itu … kita simak aja hasil wawancara selengkapnya.

ABC: “Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Saya makan 1 kali sehari, 2 sehat tidak sempurna Pak.”

ABC: “Saya ulangi pertanyaannya: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Terkadang saya dan anak makan nasi aking Pak.”

ABC: “Saya tidak puas dengan jawaban Bapak, baik saya ulangi lagi pertanyaannya: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Anak-anak saya putus sekolah karena saya tidak sanggup membayar biaya sekolah dan membeli buku yang diwajibkan oleh pihak sekolah Pak.”

ABC: “Wa … jawaban Bapak semakin ngawur, saya ulangi lagi ya Pak, Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Jangankan untuk sekolah Pak, anak saya, si Joko … kemarin nyaris meninggal dunia akibat saya tidak bisa membelikan mereka makanan … kata Bu Mantri sih kena … mmmm apa itu gizi buruk ya Pak?”

ABC: “Aduuh Bapak … coba simak pertanyaan saya baik-baik! Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Anak saya yang tertua sekarang sudah meninggal Pak … dua tahun lalu dia jadi korban tabrak lari … saya sudah coba bawa ke rumah sakit dekat2 sini ditolak … karena peralatannya tidak lengkap, lalu saya bawa ke rumah sakit di ujung jalan sana … ditolak juga karena mereka minta uang buat depeh … saya ga punya uang Pak … akhirnya puteri saya yang paling cantik itu mati begitu saja dipangkuan saya.”

ABC: “Bapak jangan mempermainkan saya ya … SEKALI LAGI SAYA ULANG PERTANYAAN SAYA: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “Istri saya sekarang sering mengeluh pegal-pegal Pak … tulangnya terasa rontok katanya … pas saya tanya kenapa dia bilang: “Aduuuh Pa’e … aku sudah ndak kuat lagi cari kayu bakar … sampean kan sudah tau hutan da ndak ada lagi disini … da ditebangin … jadinya aku harus jalan juauuuh buanggget … aku ndak tahan lagi Pa’e. Pas saya tanya: “Lo … kamu kenapa repot-repot cari kayu? liat itu di tipinya Pak Lurah … bukannya pemerintah bagi-bagi botol warna hijau itu Bu’e … katanya bisa buat masak … canggih kan itu alat”. Tapi istri saya bilang lagi ke saya: ” walah dalah Pa’e … kita ga kebagian Pa’e … sudah diambil Bu Lurah semua … dia dapet 5 botol tuh ta’ liat kemarin.”

ABC: “Bapak itu meracau saja kerjanya: INI YANG TERAKHIR KALI YA PAK … SAYA ULANGI: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”

EFG: “sebentar lagi BBM naik Pak … penghasilan saya yang cuma 15.000 sehari, mana bisa menutupi kebutuhan rumah tangga. Terpaksa saya minta si Andi, si Joko, dan si Siti anak-anak saya buat jualan koran di perempatan jalan sana … ya Alhamdulillah mereka tiap hari bisa bawa uang 5.000 perak tiap anak. lumayan kan Pak … kami bisa makan nasi perak, tempe, dan sambel terasi huuuuaaa nikmat Pak. Tapi saya ga tau nih Pak setelah BBM naik … kami bisa makan nasi, tempe sama sambel ga ya Pak … la wong harga cabe sekilo aja sekarang saya denger dari tukang sayur sudah 40 ribu … walah walah … nyambel aja kok mahal … gimana daging ayam ya Pak … huahuahua (tertawa terbahak-bahak).”

ABC: “PAK EFG … saya LELAH dengan Bapak … jawaban Bapak melantur kesana kesini … ga beres … warga negara macam apa Bapak ini … malu-maluin saya sebagai pejabat.”

EFG: “BAPAK!!!! pejabat macam apa Bapak ini … tingkah laku Bapak dan penggede2 lainnnya melantur kesana-kesini. Saya tidak puas dengan kinerja Bapak dan tim selama ini … kebijakan2nya semakin lama semakin ngawur. katanya pembela rakyat tapi kerjanya hanya mempermainkan rakyat dan meracau ga jelas supaya kami anggap Bapak dan tim itu orang hebat. Apa Bapak ga sadar kalau kami JUGA LELAH dengan Bapak … yang ga pernah malu make duit rakyat, terima suap, pake fasilitas2 nomor satu dan mobil2 mengilap sementara kami bisa makan 3 kali sehari pakai tempe dan sambel saja sudah senangnya setengah mati. Dasar … pejabat macam apa Bapak ini?”

Leave a comment »

Starting From June, 2008

Mei 2008

  • Gaji saya + suami: Pas-pasan
  • Pengeluaran : Cicilan rumah, Listrik, cicilan peralatan rumah tangga, bensin untuk suami, iuran bulanan, belanja bulanan, uang makan kami berdua.
  • Saving : Rp. 0,- (terkadang malah kasbon ke orang tua)

Juni 2008

  • Gaji saya + suami: kurang (jumlah yang diterima dari perusahaan tidak berubah)
  • Pengeluaran : Cicilan rumah, Listrik (diprediksikan budget akan segera menigkat), cicilan peralatan rumah tangga, bensin untuk suami (budget meningkat), iuran bulanan, belanja bulanan (budget meningkat), uang makan kami berdua (mau tidakmau budget meningkat).
  • Saving : Rp. – (Devisit beberapa ratus ribu akibat naiknya anggaran belanja rumah tangga).
  • BLT : Tidak dapat

Siapa yang bilang jika kenaikan harga BBM tidak mempengaruhi angka kemiskinan di negeri tercinta ini?

Comments (2) »

Semena-mena Dan Bodoh-Bodohan

-Ini murni curahan hati-

May Day baru saja lewat tapi buat saya masih menyisakan ganjalan di hati. Tingginya angka pengangguran dan harga kebutuhan ekonomi yang semakin mencekik menjadikan banyak perusahaan semena-mena terhadap karyawannya. Karena kami sebagai pekerja tidak punya pilihan akhirnya kami terpaksa menerima menjalani semua ini … mungkin kata-kata kasarnya: “Kalau lo ga terima diginiin … yaudah … masih ada ratusan bahkan ribuan orang yang mengantri untuk menggantikan posisi lo”

Belakangan ini saya memerhatikan hubungan orang-orang yang dekat dengan saya dengan perusahaan mereka atau mantan perusahaan mereka. Dan semakin saya memerhatikan, ternyata saya semakin merasa betapa tidak berfungsinya UU Ketenagakerjaan di negeri kita.

Sebut saja kejadian yang menimpa suami saya. Ia resign dari perusahaannya yang lama, Optima, sebuah perusahaan Media Specialist di bilangan Gatot Subroto. Suami biasanya gajian setiap tanggal 25 tiap bulannya. Lalu Suami resmi mengundurkan diri per tanggal 3. Dalam bayangan saya, harusnya dia mendapatkan bayaran dari selisih hari dari tanggal 25-3 di bulan berikutnya. Namun Keuangan di perusahaan tersebut menyebutkan jika tidak ada yang bisa diperhitungkan karena memang sebenarnya cut off date pay roll di tempat mereka itu tanggal 30 dan mereka sengaja memajukan tanggal gajian mereka ke tanggal 25 (kind a weird). Lalu pihak keuangan tersebut menjelaskan jika ada yang mau diperhitungkan ya paling cuti yang dicairkan, lalu ia menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan mencairkan hari cuti. Namun … seperti yang dibayangkan … itu semua sekadar wacana. Ketika suami menanyakan lebih lanjut bagaimana prosedurnya … mereka malah menjawab … SORRY YOU’RE LATE … seharusnya pada waktu membuat surat pengunduran diri suami memundurkan waktunya sekian hari sisa cuti tersebut. Lah … yang membuat saya tidak habis pikir … kemana saja perusahaan itu sehingga pada saat suami mengajukan resignation letter tidak diinformasikan jika ada haknya yang bisa diurus. Kenapa baru diberi tahu pada saat semuanya sudah terlambat? Memang di perusahaan tersebut tidak ada aturan ketenagakerjaan yang dapat mengantisipasi hal2 seperti ini? tipe perusahaan yang seperti ini yang saya sebut dengan bodoh-bodohan.

Permasalahan tidak berhenti disitu saja. Di perusahaan tempat suami bekerja yang baru ini, sebuah advertising agency dari Jepang dibilangan Senayan, jika suami telat satu menit saja uang makannya akan dipotong Rp. 10 ribu. Jam kerjanya dari pukul 8.00-17.00 (teorinya), tapi sampai saat ini, belum pernah tuh suami saya pulang jam 5 teng … selalu minimal jam 7 malam, dengan alasan: namanya juga agency. Yang jadi permasalahan adalah … kok bisa suami telat satu menit dipotong 10 ribu sedangkan “over time” minimal 2 jam tidak diperhitungkan sama sekali. Tipe seperti ini saya sebut dengan perusahaan yang semena-mena.

Ada teman dekat saya yang resign karena dapat pekerjaan baru di perusahaan yang lebih menjanjikan. Namun tidak disangka ternyata the owner of the company tidak menerima pengunduran diri teman saya dan akhirnya dengan kejamnya mereka tidak membayarkan gaji terakhir teman saya tersebut (gila ya … jaman sekarang mengambil hak orang sudah dianggap lazim). Yang ini saya sebut dengan sangat semena-mena.

Ada banyak perusahaan yang bisanya hanya menuntut kinerja yang maksimal dari karyawannya namun tidak pernah berfikir apakah mereka sudah melaksanakan kewajiban mereka untuk memenuhi hak karyawan mereka atau belum. Gaji yang di bawah standar, kesejahteraan yang dibawah rata-rata, atau tidak dibayarkannya hak-hak pekerja merupakan makanan sehari-hari dari banyak karyawan yang ada di negeri ini. Lalu … apakah penyimpangan2 itu wajar adanya? sepertinya UU Ketenagakerjaan hanya sekadar pajangan di meja kerja HRD … ga ada fungsinya!

Leave a comment »

Farewell Words

Ada salah satu teman sekantor saya yang memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama 3 bulan. Pada saat saya tanya berapa persen kemungkinan dia akan kembali, dia menjawab: “Ga tau aku … mungkin balik ke Jakarta, kerja di tempat lain, atau balik ke Serambi … aku ga tau … tapi yang pasti selepas 3 bulan itu aku harus lebih baik dari sekarang,” jawabnya.

Ini iri no. 2 setelah si M(*^(&*^0 itu!

Leave a comment »

Betapa Irinya Aku Padamu ….

Sebetulnya, jumlah pelajar yang masuk ke dalam kloter terakhir tahun 2007 di Siena itu ada 4 orang. Saya dan kedua teman perempuan saya, ditambah satu orang pelajar laki2 bernama M(*&(*^%o. Sebenarnya dari awal karena satu dan lain hal kami (tiga perempuan ini) tidak terlalu sreg sama dia. Alhasil selama ini Siena pun kami tidak terlalu menganggap dia ada karena kami anggap kelakuannya suka merepotkan orang lain (jahat ya).

Hubungan kami bisa dibilang tidak harmonis … hingga saya menjejakkan kaki saya di Fiumicino, Roma, untuk pulang … tidak terfikir tuh bagi saya untuk menghubungi dia dan mengabarkan kepulangan kami ke Indonesia.

Minggu lalu … saya dapat informasi dari teman satu angkatan dari kota lain bahwa teman saya si M^(*&^*&o itu masih berada di Siena dan bekerja pada sebuah hotel di sana. Ketika teman saya itu sedikit berkeluh kesah tentang keberadaan M*&%^*%o itu yang masih di Siena … saya malah bilang: “Wa … keren ya si M(&^&^*o itu … gw iri deh”

Hehehehe terlepas keberadaannya di sana yang telah menyulitkan beberapa orang, termasuk KBRI Roma, saya kagum dan iri dengan kebulatan tekadnya untuk tetap stay di sana. Tinggal di Italia mungkin jadi mimpi kami; M(&^(&^(0, kedua teman saya, termasuk saya. Kalau boleh jujur semasa masih di Indonesia saya sudah berniat cari kerja di sana, jadi apa saja boleh lah untuk permulaan … namun toh saya tidak seberani si M*&^*&%^0 itu. Alhasil, hingga kini saya menyesali ketidakberanian saya untuk mencoba mencari link2 agar saya bisa bekerja di sana.

Mungkin bukan permasalahan Italia, atau bekerja diluar negeri … tapi banyak hal yang membuat saya melepaskan satu kesempatan karena malu, tidak enak, tidak berani atau tidak pede hhhmmm dan agaknya ini sudah mendarah daging pada diri saya.

My dear M(*^&(&^o (terlepas kau memang telah menyusahkan beberapa orang) … sejujurnya aku iri padamu … yang punya tekat begitu kuat dan keberanian untuk mewujudkan mimpi2 mu ….

-Orang yang iri itu tanpa sadar sebenarnya memuji (sand and foam-Khalil Gibran)-

Leave a comment »

Korban Mode

Akhirnya … saya memutuskan untuk membaca Laskar Pelangi yang terhitung menghebohkan dunia perbukuan di Indonesia akhir-akhir ini.

Sering saya mengalami hal ini … disebabkan berita “bagusnya” sebuah buku terdengar dimana2 … akhirnya saya memutuskan untuk membaca (bahkan membeli) suatu buku. Tidak banyak yang pada akhirnya memuaskan … tapi saya setuju jika worth of mouth itu merupakan konsep pemasaran yang bagus.

Comments (2) »

Satu Lagi Korban Pemanasan Global ….

orangutan1.jpg

PENGGUNAAN bahan bakar fosil secara tidak bijak seperti yang telah terjadi saat ini membuat keadaan bumi lambat laun semakin tidak nyaman untuk dihuni. Meningginya intensitas bencana alam seperti badai, tornado, dan gelombang laut raksasa saat ini menjadi tanda nyata betapa berbahayanya reaksi yang ditunjukkan oleh alam akibat meningkatnya suhu bumi yang diakibatkan oleh tingginya konsentrasi CO2 sebagai salah satu bahan buangan bahan bakar fosil.

Masyarakat tampaknya belum sadar betul bahwa perilaku mereka sehari-hari kerap menjadi penyebab dan pemicu parahnya kerusakan bumi. Produksi CO2 secara massal setiap hari lambat laun telah menciptakan perubahan iklim yang cukup ekstrIm seperti yang terjadi saat ini; musim panas yang berkepanjangan, tidak teraturnya siklus musim, dan rentannya bumi terhadap bencana-bencana alam seperti yang telah disebutkan di atas.

Sederet bencana alam akibat pemanasan global seakan menjadi langganan bagi masyarakat di berbagai sudut di dunia. Sebut saja Badai Mitch yang melanda Honduras di tahun 1998. Badai dengan kecepatan 180mil/jam ini telah membinasakan 70% dari tanah pertanian yang ada. Tidak hanya kerugian material, badai ini juga telah menewaskan 11.000 orang dan telah membuat 1/3 dari penduduk Honduras kehilangan rumahnya.

Ternyata tidak hanya manusia yang merasakan imbas dari pemanasan bumi. Banyak burung asal kutub yang akhirnya terdampar di pantai utara jawa karena disorientasi. Mereka tidak lagi dapat migrasi ke tempat yang lebih hangat karena siklus musim tidak dapat lagi diprediksi. Hal yang sama menimpa spesies endemik daerah kutub lainnya seperti penguin, anjing laut, dan beruang kutub. Seiring meningkatnya suhu di daerah kutub akibat pemanasan global, satwa-satwa tersebut terpaksa harus mempertahankan diri mereka dari ancaman kematian akibat suhu yang tidak lazim.

Nasib yang sama juga menimpa satwa primata. Perubahan suhu yang cukup ekstrim membuat siklus pertumbuhan tanaman tertentu dan munculnya buah-buahan yang menjadi sumber utama makanan primata bergeser. Akibatnya, pola makan alamiah mereka turut berubah. Hal ini cukup membuat primata berada dalam posisi yang sulit, mengingat primata sangat tergantung pada pohonan dan buah-buahan untuk bertahan hidup. Apabila hal ini terus terjadi, tidak diragukan lagi jika dalam beberapa tahun kedepan populasi satwa primata akan semakin menurun.

Tanpa adanya pemanasan global yang dapat memengaruhi pola makanan saja keadaan satwa primata sudah cukup terpojok. Jumlah mereka yang semakin menyusut secara drastis karena maraknya perburuan satwa liar, illegal logging, dan deforestasi hutan tampaknya semakin memantapkan laporan yang dikeluarkan oleh IUCN dan international Primatology Society (IPS) yang menyebutkan bahwa 29% spesies primata yang ada di dunia saat ini dalam keadaan terancam.

Fenomena menyusutnya satwa primata akibat pemansan global saat ini harus disikapi secara serius oleh semua pihak, baik oleh pemerintah, LSM yang bergerak di bidang konservasi satwa, dan juga seluruh masyarakat awam. Meminimalisasi penggunaan bahan bakar yang tidak dapat terbaharui dapat menjadi langkah awal guna mengembalikan iklim bumi kita ke arah yang lebih bersahabat. Menanam pohon di setiap jengkal tanah kosong juga dapat menggiring kita ke iklim yang lebih baik, kerena tidak hanya dapat menyerap CO2 yang beredar di atmosfer, namun pepohonan juga dapat membantu menambah konsentrasi O2 di udara. [Isthi]

Leave a comment »

Perdagangan Karbon-Akankah Menjadi Solusi Bagi Kelangsungan Bumi Kita?

carbon-trade330.jpg

KARBON atau juga yang disebut dengan zat arang merupakan salah satu unsur yang berbentuk padat, cair, maupun gas yang terdapat di dalam perut bumi, di dalam batang pohon, ataupun di udara (atmosfer). Sumber terciptanya karbon yang berada di udara dapat berasal dari pembakaran minyak dan gas dari kendaraan industri, pembakaran hutan, asap yang keluar dari letusan gunung berapi, kayu yang dibakar, ataupun proses pelapukan tumbuh-tumbuhan

Karbon memiliki peran penting, diantaranya berguna untuk proses fotoseintesis tumbuhan. Pada proses ini tumbuhan menyerap karbon yang berada di udara untuk selanjutnya diubah menjadi gula dan oksigen yang diperlukan sebagai makanannya. Pross fotosintesis ini juga berjasa guna menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi.

Namun konsentrasi karbon yang berlebihan di udara bukanlah merupakan suatu hal yang baik bagi kondisi lingkungan kita, karena karbon yang terlepas ke udara secara berlebihan dapat mengakibatkan peningkatan suhu bumi atau yang marak disebut dengan pemanasan global (global warming). Bersama gas-gas hasil pencemaran lain, gas karbon membentuk lapisan yang dapat menahan panas bumi keluar dari atmosfer sehingga menyebabkan suhu udara di bumi semakin panas. Hal ini yang akrab di telinga kita dengan sebutan “Efek Rumah Kaca”

Yang jelas, akan ada banyak dampak negatif efek rumah kaca yang dapat diarasakan oleh masyarakat. Suhu permukaan yang tinggi telah menyebabkan salju yang tedapat di kedua belah kutub mencair. Hal ini secara langsung berdampak pada naiknya paras air laut. Jika hal ini terus menerus terjadi, maka bukanlah satu hal yang mustahil jika suatu hari nanti wilayah-wilayah yang berada di daerah pesisir akan tenggelam.

Hal lain yang dirasa cukup mengkhawatirkan adalah terjadinya perubahan iklim pada bumi kita. Peningkatan intensitas curah hujan pada musim penghujan atau musim kemarau yang berkepanjangan membawa dampak buruk bagi masyarakat kita. Gagal panen dan musibah-musibah semisal banjir, tanah longsor, dan kekeringan seakan menjadi momok yang tiada hentinya.

Apa yang dapat kita lakukan guna meminimalisasi hal ini?

Berbagai upaya telah dilakukan guna mengantisipasi kerusakan yang lebih parah lagi di masa yang akan datang. Salah satunya adalah menggalang kekuatan dunia untuk berjuang menghadapi lajunya pemanasan global. Pada tahun 1992 diadakan Pertemuan Tingkat Tinggi Bumi I di Rio de Janeiro, Brazil, yang menghasilkan perjanjian kerja sama yang bertujuan untuk mengantisipasi perubahan iklim dengan menetapkan batas-batas pelepasan (emisi) gas-gas rumah kaca ke udara. Anggota konvensi yang berjumlah 150 negara tersebut kemudian mengadakan pertemuan susulan di Berlin pada tahun 1995 dan disebut dengan Pertemuan Antar Pihak I atau Conference of The Parties (COP 1).

Sejak itu, diselenggarakan beberapa pertemuan susulan hingga akhirnya diadakan COP III yang diselenggarakan di Kyoto, Jepang, yang menghasilkan Kyoto Protocol dan menjadi landasan bagi pengembangan Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism atau yang disingkat dengan CDM) dimana negara-negara maju diharuskan mengurangi pencemaran udara sebesar ± 5% pada tahun 2012 dibandingkan dengan tahun 1990. Dengan mekanisme CDM ini, negara-negara maju diharuskan mengurangi gas rumah kaca dengan membiayai proyek-proyek energi bebas polusi dan penggunaan lahan untuk penyerapan karbon di negara berkembang. Kesepakatan inilah yang menjadi asal muasal digulirkannya sistem perdangan karbon.

Apa yang dimaksudt dengan Perdagangan Karbon?

Perdagan karbon adalah mekanisme berbasis pasar untuk membatasi peningkatan kadar CO2 di atmosfer dengan menjual jatah karbon yang bisa diserap oleh suatu kelompok tanaman/hutan kepada negara/industri yang menghasilkan polusi karbon.

Siapa saja yang terlibat dalam perdangan karbon ini? Ada yang disebut dengan debitur karbon, yaitu negara dan masyarakat kaya yang miskin akan pohon dan tanaman yang mampu menyerap karbon dalam jumlah yang lebih kecil daripada karbon yang dilepas oleh industri atau kendaraan di negaranya. Selain itu, bertindak selaku penjual karbon adalah kreditur karbon, yaitu negara-negara atau masyarakat miskin yang kaya akan pohon yang mampu menyerap karbon lebih banyak daripada karbon yang dihasilkan oleh industri atau kendaraan di negaranya.

Perdagangan karbon sendiri pada umumnya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sistem ”fund” dan sistem pasar. Dengan sistem fund, negara industri memberikan anggaran untuk melestarikan hutan kepada negara-negara yang bersedia menyisakan lahannya untuk pelestarian dan dananya digunakan untuk proyek-proyek pembangunan. Kelemahan sistem ini adalah seringnya dana tersebut tidak jatuh ke tangan yang tepat dan menguap begitu saja pada jajaran pemerintah pusat sehingga upaya pelestarian tidak berjalan dengan maksimal.

Sistem yang kedua adalah sistem pasar. Pada sistem ini korupsi dapat dihindari karena sistem perdagangan karbon berbetuk paska bayar, siapa saja yang memiliki hutan harus melakukan pelestarian terlebih dahulu baru setelah dibuktikan telah terjadi pelestarian, maka setiap tahun akan mendapatkan pembayaran. Selain itu, pepepohonan yang dilibatkan pada perdagangan karbon merupakan pepohonan yang bukan berasal dari hutan alami. Hal ini telah menjadi kesepakatan internasional dalam Kyoto Protocol. Dengan demikian, perdagangan karbon dari hutan lindung atau lawasan konservasi tidak dapat dilakukan. Selain itu, hanya hutan tnaman yang dikembangkan setelah tahun 1990 saja yang dapat diterima pada sistem perdagangan karbon.

Mekanisme perdagangan karbon sistem pasar sendiri dapat dijelaskan melalui ilustrasi berikut:

Jika perusahaan A, yang tiap tahunnya mengeluarkan emisi karbon dioksida sebanyak 100.000 ton diminta menurunkan emisinya hingga 5% atau 5.000 ton per tahun, maka perusahaan A memiliki dua pilihan, yaitu: menurunkan emisinya hingga 5.000 ton per tahun seperti yang diminta atau membeli hak mengemisi dari pihak lain.

Dilain pihak, terdapat hutan B seluas 50.000 hektar are (Ha) dengan status hutan konversi. Secara hukum hutan tersebut dapat dikonservasikan menjadi perkebunan. Namun melalui perdagangan karbon, hutan terbut dapat tidak dikonversikan jika ada pihak lain yang mau membeli nilai emisi karbon yang dihindari. Misalnya, harga di pasar Kyoto Protocol minimal sepuluh USD per satu ton emisi, maka bisa dibayangkan berapa banyak uang yang dapat dihasilkan dari 50.000 hektar are lahan tersebut. Namun yang patut diperhatikan dari sistem ini adalah rumitnya perhitungan harga sehingga sistem ini tidak dengan mudah dapat dilasanakan oleh semua pihak.

Sebagaimana layaknya sebuah bisnis dan perdagangan, masyarakat pada umunya berada pada posisi yang lemah untuk bernegoisasi. Masyarakat cenderung memiliki keterbatasan mengakses informasi harga yang berlaku di pasaran dan dikhawatirkan akan dimanfaatkan oleh pihak lain. Untuk mengantisipasi hal ini perlu dibuat aturan yang jelas sehingga tidak ada satupun yang merasa dirugikan. Permasalahan lainnya adalah apakah sistem ini sudah sesuai dengan semangat awal yaitu menyelamatkan lingkungan. Karena dikhawatirkan dengan adanya sistem ini emisi bukannya dikurangi jumlahnya, namun lebih kepada legalisasi kelakuan boros dan polutif asalkan membayar dan digunakan sebagai sarana baru pencetak uang. [Isthi]

Comments (3) »