05.22.08
100 Tahun Kebangkitan Nasional RI
Pak ABC, seorang pejabat tinggi di negeri tercinta ini sedang mengadakan lawatan ke salah satu daerah pinggiran Jakarta. Pada kesempatan kali ini Pak ABC mewawancarai Pak EFG, salah seorang pekerja serabutan yang tinggal di daerah tersebut. Sayangnya Pak EFG ini suka dodol … suka ga nyambung … ditanya ini jawabnya itu … kita simak aja hasil wawancara selengkapnya.
ABC: “Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”
EFG: “Saya makan 1 kali sehari, 2 sehat tidak sempurna Pak.”
ABC: “Saya ulangi pertanyaannya: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”
EFG: “Terkadang saya dan anak makan nasi aking Pak.”
ABC: “Saya tidak puas dengan jawaban Bapak, baik saya ulangi lagi pertanyaannya: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”
EFG: “Anak-anak saya putus sekolah karena saya tidak sanggup membayar biaya sekolah dan membeli buku yang diwajibkan oleh pihak sekolah Pak.”
ABC: “Wa … jawaban Bapak semakin ngawur, saya ulangi lagi ya Pak, Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”
EFG: “Jangankan untuk sekolah Pak, anak saya, si Joko … kemarin nyaris meninggal dunia akibat saya tidak bisa membelikan mereka makanan … kata Bu Mantri sih kena … mmmm apa itu gizi buruk ya Pak?”
ABC: “Aduuh Bapak … coba simak pertanyaan saya baik-baik! Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”
EFG: “Anak saya yang tertua sekarang sudah meninggal Pak … dua tahun lalu dia jadi korban tabrak lari … saya sudah coba bawa ke rumah sakit dekat2 sini ditolak … karena peralatannya tidak lengkap, lalu saya bawa ke rumah sakit di ujung jalan sana … ditolak juga karena mereka minta uang buat depeh … saya ga punya uang Pak … akhirnya puteri saya yang paling cantik itu mati begitu saja dipangkuan saya.”
ABC: “Bapak jangan mempermainkan saya ya … SEKALI LAGI SAYA ULANG PERTANYAAN SAYA: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”
EFG: “Istri saya sekarang sering mengeluh pegal-pegal Pak … tulangnya terasa rontok katanya … pas saya tanya kenapa dia bilang: “Aduuuh Pa’e … aku sudah ndak kuat lagi cari kayu bakar … sampean kan sudah tau hutan da ndak ada lagi disini … da ditebangin … jadinya aku harus jalan juauuuh buanggget … aku ndak tahan lagi Pa’e. Pas saya tanya: “Lo … kamu kenapa repot-repot cari kayu? liat itu di tipinya Pak Lurah … bukannya pemerintah bagi-bagi botol warna hijau itu Bu’e … katanya bisa buat masak … canggih kan itu alat”. Tapi istri saya bilang lagi ke saya: ” walah dalah Pa’e … kita ga kebagian Pa’e … sudah diambil Bu Lurah semua … dia dapet 5 botol tuh ta’ liat kemarin.”
ABC: “Bapak itu meracau saja kerjanya: INI YANG TERAKHIR KALI YA PAK … SAYA ULANGI: Apa yang Bapak rasakan setelah satu abad Indonesia mengalami kebangkitan?”
EFG: “sebentar lagi BBM naik Pak … penghasilan saya yang cuma 15.000 sehari, mana bisa menutupi kebutuhan rumah tangga. Terpaksa saya minta si Andi, si Joko, dan si Siti anak-anak saya buat jualan koran di perempatan jalan sana … ya Alhamdulillah mereka tiap hari bisa bawa uang 5.000 perak tiap anak. lumayan kan Pak … kami bisa makan nasi perak, tempe, dan sambel terasi huuuuaaa nikmat Pak. Tapi saya ga tau nih Pak setelah BBM naik … kami bisa makan nasi, tempe sama sambel ga ya Pak … la wong harga cabe sekilo aja sekarang saya denger dari tukang sayur sudah 40 ribu … walah walah … nyambel aja kok mahal … gimana daging ayam ya Pak … huahuahua (tertawa terbahak-bahak).”
ABC: “PAK EFG … saya LELAH dengan Bapak … jawaban Bapak melantur kesana kesini … ga beres … warga negara macam apa Bapak ini … malu-maluin saya sebagai pejabat.”
EFG: “BAPAK!!!! pejabat macam apa Bapak ini … tingkah laku Bapak dan penggede2 lainnnya melantur kesana-kesini. Saya tidak puas dengan kinerja Bapak dan tim selama ini … kebijakan2nya semakin lama semakin ngawur. katanya pembela rakyat tapi kerjanya hanya mempermainkan rakyat dan meracau ga jelas supaya kami anggap Bapak dan tim itu orang hebat. Apa Bapak ga sadar kalau kami JUGA LELAH dengan Bapak … yang ga pernah malu make duit rakyat, terima suap, pake fasilitas2 nomor satu dan mobil2 mengilap sementara kami bisa makan 3 kali sehari pakai tempe dan sambel saja sudah senangnya setengah mati. Dasar … pejabat macam apa Bapak ini?”
05.19.08
Starting From June, 2008
Mei 2008
- Gaji saya + suami: Pas-pasan
- Pengeluaran : Cicilan rumah, Listrik, cicilan peralatan rumah tangga, bensin untuk suami, iuran bulanan, belanja bulanan, uang makan kami berdua.
- Saving : Rp. 0,- (terkadang malah kasbon ke orang tua)
Juni 2008
- Gaji saya + suami: kurang (jumlah yang diterima dari perusahaan tidak berubah)
- Pengeluaran : Cicilan rumah, Listrik (diprediksikan budget akan segera menigkat), cicilan peralatan rumah tangga, bensin untuk suami (budget meningkat), iuran bulanan, belanja bulanan (budget meningkat), uang makan kami berdua (mau tidakmau budget meningkat).
- Saving : Rp. – (Devisit beberapa ratus ribu akibat naiknya anggaran belanja rumah tangga).
- BLT : Tidak dapat
Siapa yang bilang jika kenaikan harga BBM tidak mempengaruhi angka kemiskinan di negeri tercinta ini?
05.07.08
Semena-mena Dan Bodoh-Bodohan
-Ini murni curahan hati-
May Day baru saja lewat tapi buat saya masih menyisakan ganjalan di hati. Tingginya angka pengangguran dan harga kebutuhan ekonomi yang semakin mencekik menjadikan banyak perusahaan semena-mena terhadap karyawannya. Karena kami sebagai pekerja tidak punya pilihan akhirnya kami terpaksa menerima menjalani semua ini … mungkin kata-kata kasarnya: “Kalau lo ga terima diginiin … yaudah … masih ada ratusan bahkan ribuan orang yang mengantri untuk menggantikan posisi lo”
Belakangan ini saya memerhatikan hubungan orang-orang yang dekat dengan saya dengan perusahaan mereka atau mantan perusahaan mereka. Dan semakin saya memerhatikan, ternyata saya semakin merasa betapa tidak berfungsinya UU Ketenagakerjaan di negeri kita.
Sebut saja kejadian yang menimpa suami saya. Ia resign dari perusahaannya yang lama, Optima, sebuah perusahaan Media Specialist di bilangan Gatot Subroto. Suami biasanya gajian setiap tanggal 25 tiap bulannya. Lalu Suami resmi mengundurkan diri per tanggal 3. Dalam bayangan saya, harusnya dia mendapatkan bayaran dari selisih hari dari tanggal 25-3 di bulan berikutnya. Namun Keuangan di perusahaan tersebut menyebutkan jika tidak ada yang bisa diperhitungkan karena memang sebenarnya cut off date pay roll di tempat mereka itu tanggal 30 dan mereka sengaja memajukan tanggal gajian mereka ke tanggal 25 (kind a weird). Lalu pihak keuangan tersebut menjelaskan jika ada yang mau diperhitungkan ya paling cuti yang dicairkan, lalu ia menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan mencairkan hari cuti. Namun … seperti yang dibayangkan … itu semua sekadar wacana. Ketika suami menanyakan lebih lanjut bagaimana prosedurnya … mereka malah menjawab … SORRY YOU’RE LATE … seharusnya pada waktu membuat surat pengunduran diri suami memundurkan waktunya sekian hari sisa cuti tersebut. Lah … yang membuat saya tidak habis pikir … kemana saja perusahaan itu sehingga pada saat suami mengajukan resignation letter tidak diinformasikan jika ada haknya yang bisa diurus. Kenapa baru diberi tahu pada saat semuanya sudah terlambat? Memang di perusahaan tersebut tidak ada aturan ketenagakerjaan yang dapat mengantisipasi hal2 seperti ini? tipe perusahaan yang seperti ini yang saya sebut dengan bodoh-bodohan.
Permasalahan tidak berhenti disitu saja. Di perusahaan tempat suami bekerja yang baru ini, sebuah advertising agency dari Jepang dibilangan Senayan, jika suami telat satu menit saja uang makannya akan dipotong Rp. 10 ribu. Jam kerjanya dari pukul 8.00-17.00 (teorinya), tapi sampai saat ini, belum pernah tuh suami saya pulang jam 5 teng … selalu minimal jam 7 malam, dengan alasan: namanya juga agency. Yang jadi permasalahan adalah … kok bisa suami telat satu menit dipotong 10 ribu sedangkan “over time” minimal 2 jam tidak diperhitungkan sama sekali. Tipe seperti ini saya sebut dengan perusahaan yang semena-mena.
Ada teman dekat saya yang resign karena dapat pekerjaan baru di perusahaan yang lebih menjanjikan. Namun tidak disangka ternyata the owner of the company tidak menerima pengunduran diri teman saya dan akhirnya dengan kejamnya mereka tidak membayarkan gaji terakhir teman saya tersebut (gila ya … jaman sekarang mengambil hak orang sudah dianggap lazim). Yang ini saya sebut dengan sangat semena-mena.
Ada banyak perusahaan yang bisanya hanya menuntut kinerja yang maksimal dari karyawannya namun tidak pernah berfikir apakah mereka sudah melaksanakan kewajiban mereka untuk memenuhi hak karyawan mereka atau belum. Gaji yang di bawah standar, kesejahteraan yang dibawah rata-rata, atau tidak dibayarkannya hak-hak pekerja merupakan makanan sehari-hari dari banyak karyawan yang ada di negeri ini. Lalu … apakah penyimpangan2 itu wajar adanya? sepertinya UU Ketenagakerjaan hanya sekadar pajangan di meja kerja HRD … ga ada fungsinya!





