Semena-mena Dan Bodoh-Bodohan

-Ini murni curahan hati-

May Day baru saja lewat tapi buat saya masih menyisakan ganjalan di hati. Tingginya angka pengangguran dan harga kebutuhan ekonomi yang semakin mencekik menjadikan banyak perusahaan semena-mena terhadap karyawannya. Karena kami sebagai pekerja tidak punya pilihan akhirnya kami terpaksa menerima menjalani semua ini … mungkin kata-kata kasarnya: “Kalau lo ga terima diginiin … yaudah … masih ada ratusan bahkan ribuan orang yang mengantri untuk menggantikan posisi lo”

Belakangan ini saya memerhatikan hubungan orang-orang yang dekat dengan saya dengan perusahaan mereka atau mantan perusahaan mereka. Dan semakin saya memerhatikan, ternyata saya semakin merasa betapa tidak berfungsinya UU Ketenagakerjaan di negeri kita.

Sebut saja kejadian yang menimpa suami saya. Ia resign dari perusahaannya yang lama, Optima, sebuah perusahaan Media Specialist di bilangan Gatot Subroto. Suami biasanya gajian setiap tanggal 25 tiap bulannya. Lalu Suami resmi mengundurkan diri per tanggal 3. Dalam bayangan saya, harusnya dia mendapatkan bayaran dari selisih hari dari tanggal 25-3 di bulan berikutnya. Namun Keuangan di perusahaan tersebut menyebutkan jika tidak ada yang bisa diperhitungkan karena memang sebenarnya cut off date pay roll di tempat mereka itu tanggal 30 dan mereka sengaja memajukan tanggal gajian mereka ke tanggal 25 (kind a weird). Lalu pihak keuangan tersebut menjelaskan jika ada yang mau diperhitungkan ya paling cuti yang dicairkan, lalu ia menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan mencairkan hari cuti. Namun … seperti yang dibayangkan … itu semua sekadar wacana. Ketika suami menanyakan lebih lanjut bagaimana prosedurnya … mereka malah menjawab … SORRY YOU’RE LATE … seharusnya pada waktu membuat surat pengunduran diri suami memundurkan waktunya sekian hari sisa cuti tersebut. Lah … yang membuat saya tidak habis pikir … kemana saja perusahaan itu sehingga pada saat suami mengajukan resignation letter tidak diinformasikan jika ada haknya yang bisa diurus. Kenapa baru diberi tahu pada saat semuanya sudah terlambat? Memang di perusahaan tersebut tidak ada aturan ketenagakerjaan yang dapat mengantisipasi hal2 seperti ini? tipe perusahaan yang seperti ini yang saya sebut dengan bodoh-bodohan.

Permasalahan tidak berhenti disitu saja. Di perusahaan tempat suami bekerja yang baru ini, sebuah advertising agency dari Jepang dibilangan Senayan, jika suami telat satu menit saja uang makannya akan dipotong Rp. 10 ribu. Jam kerjanya dari pukul 8.00-17.00 (teorinya), tapi sampai saat ini, belum pernah tuh suami saya pulang jam 5 teng … selalu minimal jam 7 malam, dengan alasan: namanya juga agency. Yang jadi permasalahan adalah … kok bisa suami telat satu menit dipotong 10 ribu sedangkan “over time” minimal 2 jam tidak diperhitungkan sama sekali. Tipe seperti ini saya sebut dengan perusahaan yang semena-mena.

Ada teman dekat saya yang resign karena dapat pekerjaan baru di perusahaan yang lebih menjanjikan. Namun tidak disangka ternyata the owner of the company tidak menerima pengunduran diri teman saya dan akhirnya dengan kejamnya mereka tidak membayarkan gaji terakhir teman saya tersebut (gila ya … jaman sekarang mengambil hak orang sudah dianggap lazim). Yang ini saya sebut dengan sangat semena-mena.

Ada banyak perusahaan yang bisanya hanya menuntut kinerja yang maksimal dari karyawannya namun tidak pernah berfikir apakah mereka sudah melaksanakan kewajiban mereka untuk memenuhi hak karyawan mereka atau belum. Gaji yang di bawah standar, kesejahteraan yang dibawah rata-rata, atau tidak dibayarkannya hak-hak pekerja merupakan makanan sehari-hari dari banyak karyawan yang ada di negeri ini. Lalu … apakah penyimpangan2 itu wajar adanya? sepertinya UU Ketenagakerjaan hanya sekadar pajangan di meja kerja HRD … ga ada fungsinya!

No comment »

Farewell Words

Ada salah satu teman sekantor saya yang memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama 3 bulan. Pada saat saya tanya berapa persen kemungkinan dia akan kembali, dia menjawab: “Ga tau aku … mungkin balik ke Jakarta, kerja di tempat lain, atau balik ke Serambi … aku ga tau … tapi yang pasti selepas 3 bulan itu aku harus lebih baik dari sekarang,” jawabnya.

Ini iri no. 2 setelah si M(*^(&*^0 itu!

No comment »

Taburan Bintang Di Jalan Aria Putra

Malam itu, Jumat, 4 April 2008, saya dan suami pulang ke rumah sedikit larut, sekitar pukul 11 malam. Tidak seperti biasanya, malam itu ruas jalan Aria Putra nampak lengang. Hanya satu dua kendaraan yang melintas, namun disertai dengan kecepatan yang tak tanggung-tanggung … bagaikan berada di arena balap F1.

Sebelum memasuki pertigaan antara Jombang dan Serpong … saya tertegun melihat pemandangan menakjubkan yang terbentang di angkasa. Bintang bertaburan di atas langit jalan Aria Putra … indah sekali. Suatu pemandangan yang biasanya hanya bisa saya nikmati di Lembah Surya Kencana atau Kawah Ratu.

Sejenak saya menghayalkan saya yang dengan beralaskan matras duduk berkumpul di Lembah Surya Kencana yang bertudung bintang dengan teman-teman seperjalanan. Sembari main kartu atau sekadar mengobrol, kami memasak makan malam … nasi hangat, mie rebus plus kornet atau sosis yang digoreng di atas Trangia dan ditemani dengan secangkir plastik cappucino merupakan suguhan paling nikmat yang selalu kami bayangkan selama perjalanan. Konstelasi bintang yang terpampang jelas serupa lampu lampu yang menerangi ibu kota … indah dan meriah. Tiba-tiba angin pegunungan berhembus semilir menyapu muka … dengan refleks saya membetulkan letak jaket yang membalut tubuh dan merapatkan sarung guna mencegah angin merambat masuk ke tubuh saya. Selepas perjalanan yang melelahkan dari kaki gunung dengan beban cariel di pundak yang tidak bisa dibilang ringan, saat-saat ini kami nikmati sebagai sebuah ganjaran yang setimpal ….

Tiba tiba … ccciiiiiiiit … sekejap lamunan saya buyar lantaran suami saya me-rem mendadak motor yang kami tumpangi. Ternyata baru saja ada motor tanpa lampu yang memotong secara horizontal jalan yang kami lewati, bahaya sekali. Saya heran mengapa suami saya tidak dari jauh mengantisipasi hal ini. Setelah saya perhatikan sekeliling … hhhmmm … wajar saja, karena ternyata sepanjang ruas jalan itu tidak dipasangi lampu penerang jalan sama sekali. Pantas saja bintang-bintang itu tampak jelas sekali terlihat, pantas saja suasana di jalan itu tidak jauh dari suasana pegunungan … itu semua karena tidak adanya lampu penerangan jalan yang dipasang selayaknya sebuah jalan besar.

Mungkin pemda setempat beranggapan: “Mmmmhh sudah tak perlu lah dipasang lampu jalanan, taburan bintang yang ada toh sudah cukup menjadi penerang” (sok romantis dan dramatis :( )

No comment »

Betapa Irinya Aku Padamu ….

Sebetulnya, jumlah pelajar yang masuk ke dalam kloter terakhir tahun 2007 di Siena itu ada 4 orang. Saya dan kedua teman perempuan saya, ditambah satu orang pelajar laki2 bernama M(*&(*^%o. Sebenarnya dari awal karena satu dan lain hal kami (tiga perempuan ini) tidak terlalu sreg sama dia. Alhasil selama ini Siena pun kami tidak terlalu menganggap dia ada karena kami anggap kelakuannya suka merepotkan orang lain (jahat ya).

Hubungan kami bisa dibilang tidak harmonis … hingga saya menjejakkan kaki saya di Fiumicino, Roma, untuk pulang … tidak terfikir tuh bagi saya untuk menghubungi dia dan mengabarkan kepulangan kami ke Indonesia.

Minggu lalu … saya dapat informasi dari teman satu angkatan dari kota lain bahwa teman saya si M^(*&^*&o itu masih berada di Siena dan bekerja pada sebuah hotel di sana. Ketika teman saya itu sedikit berkeluh kesah tentang keberadaan M*&%^*%o itu yang masih di Siena … saya malah bilang: “Wa … keren ya si M(&^&^*o itu … gw iri deh”

Hehehehe terlepas keberadaannya di sana yang telah menyulitkan beberapa orang, termasuk KBRI Roma, saya kagum dan iri dengan kebulatan tekadnya untuk tetap stay di sana. Tinggal di Italia mungkin jadi mimpi kami; M(&^(&^(0, kedua teman saya, termasuk saya. Kalau boleh jujur semasa masih di Indonesia saya sudah berniat cari kerja di sana, jadi apa saja boleh lah untuk permulaan … namun toh saya tidak seberani si M*&^*&%^0 itu. Alhasil, hingga kini saya menyesali ketidakberanian saya untuk mencoba mencari link2 agar saya bisa bekerja di sana.

Mungkin bukan permasalahan Italia, atau bekerja diluar negeri … tapi banyak hal yang membuat saya melepaskan satu kesempatan karena malu, tidak enak, tidak berani atau tidak pede hhhmmm dan agaknya ini sudah mendarah daging pada diri saya.

My dear M(*^&(&^o (terlepas kau memang telah menyusahkan beberapa orang) … sejujurnya aku iri padamu … yang punya tekat begitu kuat dan keberanian untuk mewujudkan mimpi2 mu ….

-Orang yang iri itu tanpa sadar sebenarnya memuji (sand and foam-Khalil Gibran)-

No comment »

” … Pengen pulang cepet …. “

Kebetulan hari ini suami saya tidak ke kantor karena besok, 3/4/06, merupakan hari pertamanya bekerja di kantornya yang baru. Sesaat sebelum suami saya pulang dari mengantarkan saya ke kantor pagi ini saya sempat bilang “Nanti tolong dijemput jam 5 teng ya … aku pengen pulang cepet,” pesan saya, dan Ia mengiyakan.

Tapi ternyata rencana berubah … mendadak Ia harus menjemput ibunya di bandara dan hingga kini (16.45) Suami masih berada di perjalanan. “Wa … alamat ga jadi pulang jam 5,” pikir saya dalam hati.

Jadi masalah ini berawal dari masa pacaran kami dulu. Di jaman itu, tidak sekalipun Ia membiarkan saya beraktivitas sendiri (beda sekali dengan mantan pacar saya sebelumnya yang jika saya minta jemput, mantan pacar saya tersebut selalu saja memberi alasn ini itu agar tidak menjemput saya hahahahaha ) tapi hasilnya … hhhmmm saya amat sangat mandiri saat itu :D.

Na … kebiasaan antar mengantar dan jemput menjemput ini akhirnya mendatangkan kebiasaan buruk bagi saya aat ini. Jam kerja di kantor saya dari pukul 8.00 hingga 17.00. Tapi toh tiap hari rata-rata saya keluar kantor pukul  19.30 bahkan beberapa kali hingga pukul 20.00, kenapa? karena saya selalu menunggu suami saya pulang dari kantornya yang terkadang tidak menentu sehingga bisa nebeng pulang ke rumah. Ada saja yang saya kerjakan di kantor untuk mengisi waktu … chatting, browsing, ngerjain kerjaan kantor (yang ini proporsinya kecil … kecil sekali) atau baca-baca buku. Kerelaan saya menunggu suami seperti ini bukan karena alasan “kebersamaan” tapi lebih karena saya tidak ingin pulang sendiri; naik angkot, berjejal-jelalan di dalam bis, kena macet dll. dll. Intinya saya jadi tidak mandiri (terutama setelah rumah saya saat ini terlatak di daerah Ciputat yang macetnya ga tanggung2 dan ditambah aksesibilitas ke komplek saya yang kurang bagus)

Agak sulit rupanya  keluar dari situasi yang nyaman … perlu tekad kuat. Karena walau sudah beberapa kali saya merencanakan jam 5 teng saya pulang sendiri … tapi toh halangannya (yang saya buat sendiri) adaaaa saja. Alhasil setiap kali saya merencanakan pulang sendiri … bisa dibayangkan endingnya seperti apa: browsing sembari mendengarkan musik dari pukul 17.00 hingga pukul 19.30.

No comment »

Korban Mode

Akhirnya … saya memutuskan untuk membaca Laskar Pelangi yang terhitung menghebohkan dunia perbukuan di Indonesia akhir-akhir ini.

Sering saya mengalami hal ini … disebabkan berita “bagusnya” sebuah buku terdengar dimana2 … akhirnya saya memutuskan untuk membaca (bahkan membeli) suatu buku. Tidak banyak yang pada akhirnya memuaskan … tapi saya setuju jika worth of mouth itu merupakan konsep pemasaran yang bagus.

Comments (2) »

Satu Lagi Korban Pemanasan Global ….

orangutan1.jpg

PENGGUNAAN bahan bakar fosil secara tidak bijak seperti yang telah terjadi saat ini membuat keadaan bumi lambat laun semakin tidak nyaman untuk dihuni. Meningginya intensitas bencana alam seperti badai, tornado, dan gelombang laut raksasa saat ini menjadi tanda nyata betapa berbahayanya reaksi yang ditunjukkan oleh alam akibat meningkatnya suhu bumi yang diakibatkan oleh tingginya konsentrasi CO2 sebagai salah satu bahan buangan bahan bakar fosil.

Masyarakat tampaknya belum sadar betul bahwa perilaku mereka sehari-hari kerap menjadi penyebab dan pemicu parahnya kerusakan bumi. Produksi CO2 secara massal setiap hari lambat laun telah menciptakan perubahan iklim yang cukup ekstrIm seperti yang terjadi saat ini; musim panas yang berkepanjangan, tidak teraturnya siklus musim, dan rentannya bumi terhadap bencana-bencana alam seperti yang telah disebutkan di atas.

Sederet bencana alam akibat pemanasan global seakan menjadi langganan bagi masyarakat di berbagai sudut di dunia. Sebut saja Badai Mitch yang melanda Honduras di tahun 1998. Badai dengan kecepatan 180mil/jam ini telah membinasakan 70% dari tanah pertanian yang ada. Tidak hanya kerugian material, badai ini juga telah menewaskan 11.000 orang dan telah membuat 1/3 dari penduduk Honduras kehilangan rumahnya.

Ternyata tidak hanya manusia yang merasakan imbas dari pemanasan bumi. Banyak burung asal kutub yang akhirnya terdampar di pantai utara jawa karena disorientasi. Mereka tidak lagi dapat migrasi ke tempat yang lebih hangat karena siklus musim tidak dapat lagi diprediksi. Hal yang sama menimpa spesies endemik daerah kutub lainnya seperti penguin, anjing laut, dan beruang kutub. Seiring meningkatnya suhu di daerah kutub akibat pemanasan global, satwa-satwa tersebut terpaksa harus mempertahankan diri mereka dari ancaman kematian akibat suhu yang tidak lazim.

Nasib yang sama juga menimpa satwa primata. Perubahan suhu yang cukup ekstrim membuat siklus pertumbuhan tanaman tertentu dan munculnya buah-buahan yang menjadi sumber utama makanan primata bergeser. Akibatnya, pola makan alamiah mereka turut berubah. Hal ini cukup membuat primata berada dalam posisi yang sulit, mengingat primata sangat tergantung pada pohonan dan buah-buahan untuk bertahan hidup. Apabila hal ini terus terjadi, tidak diragukan lagi jika dalam beberapa tahun kedepan populasi satwa primata akan semakin menurun.

Tanpa adanya pemanasan global yang dapat memengaruhi pola makanan saja keadaan satwa primata sudah cukup terpojok. Jumlah mereka yang semakin menyusut secara drastis karena maraknya perburuan satwa liar, illegal logging, dan deforestasi hutan tampaknya semakin memantapkan laporan yang dikeluarkan oleh IUCN dan international Primatology Society (IPS) yang menyebutkan bahwa 29% spesies primata yang ada di dunia saat ini dalam keadaan terancam.

Fenomena menyusutnya satwa primata akibat pemansan global saat ini harus disikapi secara serius oleh semua pihak, baik oleh pemerintah, LSM yang bergerak di bidang konservasi satwa, dan juga seluruh masyarakat awam. Meminimalisasi penggunaan bahan bakar yang tidak dapat terbaharui dapat menjadi langkah awal guna mengembalikan iklim bumi kita ke arah yang lebih bersahabat. Menanam pohon di setiap jengkal tanah kosong juga dapat menggiring kita ke iklim yang lebih baik, kerena tidak hanya dapat menyerap CO2 yang beredar di atmosfer, namun pepohonan juga dapat membantu menambah konsentrasi O2 di udara. [Isthi]

No comment »

Perdagangan Karbon-Akankah Menjadi Solusi Bagi Kelangsungan Bumi Kita?

carbon-trade330.jpg

KARBON atau juga yang disebut dengan zat arang merupakan salah satu unsur yang berbentuk padat, cair, maupun gas yang terdapat di dalam perut bumi, di dalam batang pohon, ataupun di udara (atmosfer). Sumber terciptanya karbon yang berada di udara dapat berasal dari pembakaran minyak dan gas dari kendaraan industri, pembakaran hutan, asap yang keluar dari letusan gunung berapi, kayu yang dibakar, ataupun proses pelapukan tumbuh-tumbuhan

Karbon memiliki peran penting, diantaranya berguna untuk proses fotoseintesis tumbuhan. Pada proses ini tumbuhan menyerap karbon yang berada di udara untuk selanjutnya diubah menjadi gula dan oksigen yang diperlukan sebagai makanannya. Pross fotosintesis ini juga berjasa guna menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi.

Namun konsentrasi karbon yang berlebihan di udara bukanlah merupakan suatu hal yang baik bagi kondisi lingkungan kita, karena karbon yang terlepas ke udara secara berlebihan dapat mengakibatkan peningkatan suhu bumi atau yang marak disebut dengan pemanasan global (global warming). Bersama gas-gas hasil pencemaran lain, gas karbon membentuk lapisan yang dapat menahan panas bumi keluar dari atmosfer sehingga menyebabkan suhu udara di bumi semakin panas. Hal ini yang akrab di telinga kita dengan sebutan “Efek Rumah Kaca”

Yang jelas, akan ada banyak dampak negatif efek rumah kaca yang dapat diarasakan oleh masyarakat. Suhu permukaan yang tinggi telah menyebabkan salju yang tedapat di kedua belah kutub mencair. Hal ini secara langsung berdampak pada naiknya paras air laut. Jika hal ini terus menerus terjadi, maka bukanlah satu hal yang mustahil jika suatu hari nanti wilayah-wilayah yang berada di daerah pesisir akan tenggelam.

Hal lain yang dirasa cukup mengkhawatirkan adalah terjadinya perubahan iklim pada bumi kita. Peningkatan intensitas curah hujan pada musim penghujan atau musim kemarau yang berkepanjangan membawa dampak buruk bagi masyarakat kita. Gagal panen dan musibah-musibah semisal banjir, tanah longsor, dan kekeringan seakan menjadi momok yang tiada hentinya.

Apa yang dapat kita lakukan guna meminimalisasi hal ini?

Berbagai upaya telah dilakukan guna mengantisipasi kerusakan yang lebih parah lagi di masa yang akan datang. Salah satunya adalah menggalang kekuatan dunia untuk berjuang menghadapi lajunya pemanasan global. Pada tahun 1992 diadakan Pertemuan Tingkat Tinggi Bumi I di Rio de Janeiro, Brazil, yang menghasilkan perjanjian kerja sama yang bertujuan untuk mengantisipasi perubahan iklim dengan menetapkan batas-batas pelepasan (emisi) gas-gas rumah kaca ke udara. Anggota konvensi yang berjumlah 150 negara tersebut kemudian mengadakan pertemuan susulan di Berlin pada tahun 1995 dan disebut dengan Pertemuan Antar Pihak I atau Conference of The Parties (COP 1).

Sejak itu, diselenggarakan beberapa pertemuan susulan hingga akhirnya diadakan COP III yang diselenggarakan di Kyoto, Jepang, yang menghasilkan Kyoto Protocol dan menjadi landasan bagi pengembangan Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism atau yang disingkat dengan CDM) dimana negara-negara maju diharuskan mengurangi pencemaran udara sebesar ± 5% pada tahun 2012 dibandingkan dengan tahun 1990. Dengan mekanisme CDM ini, negara-negara maju diharuskan mengurangi gas rumah kaca dengan membiayai proyek-proyek energi bebas polusi dan penggunaan lahan untuk penyerapan karbon di negara berkembang. Kesepakatan inilah yang menjadi asal muasal digulirkannya sistem perdangan karbon.

Apa yang dimaksudt dengan Perdagangan Karbon?

Perdagan karbon adalah mekanisme berbasis pasar untuk membatasi peningkatan kadar CO2 di atmosfer dengan menjual jatah karbon yang bisa diserap oleh suatu kelompok tanaman/hutan kepada negara/industri yang menghasilkan polusi karbon.

Siapa saja yang terlibat dalam perdangan karbon ini? Ada yang disebut dengan debitur karbon, yaitu negara dan masyarakat kaya yang miskin akan pohon dan tanaman yang mampu menyerap karbon dalam jumlah yang lebih kecil daripada karbon yang dilepas oleh industri atau kendaraan di negaranya. Selain itu, bertindak selaku penjual karbon adalah kreditur karbon, yaitu negara-negara atau masyarakat miskin yang kaya akan pohon yang mampu menyerap karbon lebih banyak daripada karbon yang dihasilkan oleh industri atau kendaraan di negaranya.

Perdagangan karbon sendiri pada umumnya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sistem ”fund” dan sistem pasar. Dengan sistem fund, negara industri memberikan anggaran untuk melestarikan hutan kepada negara-negara yang bersedia menyisakan lahannya untuk pelestarian dan dananya digunakan untuk proyek-proyek pembangunan. Kelemahan sistem ini adalah seringnya dana tersebut tidak jatuh ke tangan yang tepat dan menguap begitu saja pada jajaran pemerintah pusat sehingga upaya pelestarian tidak berjalan dengan maksimal.

Sistem yang kedua adalah sistem pasar. Pada sistem ini korupsi dapat dihindari karena sistem perdagangan karbon berbetuk paska bayar, siapa saja yang memiliki hutan harus melakukan pelestarian terlebih dahulu baru setelah dibuktikan telah terjadi pelestarian, maka setiap tahun akan mendapatkan pembayaran. Selain itu, pepepohonan yang dilibatkan pada perdagangan karbon merupakan pepohonan yang bukan berasal dari hutan alami. Hal ini telah menjadi kesepakatan internasional dalam Kyoto Protocol. Dengan demikian, perdagangan karbon dari hutan lindung atau lawasan konservasi tidak dapat dilakukan. Selain itu, hanya hutan tnaman yang dikembangkan setelah tahun 1990 saja yang dapat diterima pada sistem perdagangan karbon.

Mekanisme perdagangan karbon sistem pasar sendiri dapat dijelaskan melalui ilustrasi berikut:

Jika perusahaan A, yang tiap tahunnya mengeluarkan emisi karbon dioksida sebanyak 100.000 ton diminta menurunkan emisinya hingga 5% atau 5.000 ton per tahun, maka perusahaan A memiliki dua pilihan, yaitu: menurunkan emisinya hingga 5.000 ton per tahun seperti yang diminta atau membeli hak mengemisi dari pihak lain.

Dilain pihak, terdapat hutan B seluas 50.000 hektar are (Ha) dengan status hutan konversi. Secara hukum hutan tersebut dapat dikonservasikan menjadi perkebunan. Namun melalui perdagangan karbon, hutan terbut dapat tidak dikonversikan jika ada pihak lain yang mau membeli nilai emisi karbon yang dihindari. Misalnya, harga di pasar Kyoto Protocol minimal sepuluh USD per satu ton emisi, maka bisa dibayangkan berapa banyak uang yang dapat dihasilkan dari 50.000 hektar are lahan tersebut. Namun yang patut diperhatikan dari sistem ini adalah rumitnya perhitungan harga sehingga sistem ini tidak dengan mudah dapat dilasanakan oleh semua pihak.

Sebagaimana layaknya sebuah bisnis dan perdagangan, masyarakat pada umunya berada pada posisi yang lemah untuk bernegoisasi. Masyarakat cenderung memiliki keterbatasan mengakses informasi harga yang berlaku di pasaran dan dikhawatirkan akan dimanfaatkan oleh pihak lain. Untuk mengantisipasi hal ini perlu dibuat aturan yang jelas sehingga tidak ada satupun yang merasa dirugikan. Permasalahan lainnya adalah apakah sistem ini sudah sesuai dengan semangat awal yaitu menyelamatkan lingkungan. Karena dikhawatirkan dengan adanya sistem ini emisi bukannya dikurangi jumlahnya, namun lebih kepada legalisasi kelakuan boros dan polutif asalkan membayar dan digunakan sebagai sarana baru pencetak uang. [Isthi]

No comment »

… Dan Lahan Gambut Itu Pun Dibakar ….

Kebakan hutan tampaknya sudah menjadi hal yang biasa terjadi di Indonesia. Jutaan hektar hutan dan lahan tidak luput dari bencana ini setiap tahunnya, terutama jika sudah memasuki musim kemarau. Musibah yang kerap melanda Kalimantan dan Sumatera ini tidak hanya mengundang kerugian material, namun tercatat jutaan orang dari negara tetangga di sekitar kedua pulau tersebut terganggu kesehatannya karena menghirup asap yang sarat akan karbon.

Kebakaran hutan yang intensitasnya semakin meninggi tiap tahunnya tersebut dipacu oleh maraknya aktivitas manusia yang menggunakan api dalam upaya membuka hutan untuk dikonversikan menjadi hutan tamanan industri, perkebunan, pertanian, dll. Tidak hanya pembukaan lahan, kemarau ekstrim yang disebabkan oleh pemanasan globalpun telah memacu terjadinya kebakaran hutan.

Ternyata sebagian besar kebakaran hutan yang melanda kedua pulau tersebut terjadi di wilayah hutan gambut. Ini dapat terlihat dari data yang terkumpul dari periode tahun 2001-2006, bahwa 67% hotspot yang menjadi awal kebakaran hutan dan lahan tedapat di lahan gambut.

Mengapa lahan gambut sangat rentan terhadap musibah kebakaran? Hal ini disebabkan sifat gambut yang seperti spons, banyak menyerap air. Pada saat pohonnya ditebang, maka akan terjadi subsidensi (penurunan muka tanah) sehingga tanah gambut yang bersifat hidropobik tidak dapat lagi menyerap air dan kemudian mengering. Pada proses inilah terjadi pelepasan karbon yang sekaligus dapat menyebabkan lahan gambut rentan terhadap kebakaran.

Seperti yang telah disinggung di atas, kebakaran lahan tidak hanya mendatangkan kerugian material, namun juga telah memengaruhi kesehatan akibat karbon yang terlepas ke udara. Dampak kebakaran hutan ternyata tidak hanya dirasakan oleh manusia, namun juga oleh jutaan spesies satwa liar yang turut menggantungkan hidupnya di hutan, termasuk didalamnya orangutan. Jika kebakaran lahan masih terus berlangsung, bukannya satu hal yang mustahil jika lambat laun spesies yang berada si dalamnya juga turut musnah.

Tampaknya harus ada tindakan yang serius dalam menangani masalah ini, karena permasalahan tidak hanya terhenti pada degradasi lahan gambut yang diakibatkan oleh konversi lahan dan meningkatnya konsentrasi karbon di atmosfer, namun juga mempengaruhi kelangsungan hidup spesies langka. Aktivitas perusahaan-perusahaan yang berbasis kehutanan dan perkebunan harus awasi secara ketat oleh pemerintah, terlebih jika menyangkut pembukaan lahan. Perusahaan-perusahaan terkait juga diharapkan tidak hanya mengeruk keuntungan semata, namun juga mempertimbangkan faktor kelestarian lingkungan dan turut bertanggung jawab terhadap keanekaragaman hayati di sekitarnya.

Tidak hanya berhenti pada perusahaan besar, masyarakat sekitar juga perlu disadartahukan mengenai bahayanya membuka lahan dengan cara membakar. Karena tidak hanya sulit untuk dipadamkan, namun tanah gambut merupakan lahan yang menghasilkan lebih banyak asap dan karbon jika dibandingkan dengan tanah lain. Untuk menghentikan aksi ini pada akhirnya harus ada sinergi terpadu antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat untuk mengkoordinasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan yang dapat mendatangkan banyak kerugian diantaranya musnahnya satwa liar. [Isthi]

No comment »

Mengenal Lebih Dekat Infeksi Kandung Kemih

Pernah gak kamu merasa ingin buang air kecil terus menerus, air seni yang terasa panas, atau yang lebih gawat lagi jika air seni kamu bercampur dengan darah? Jika kamu sudah mengalami minimal satu dari gejala-gejala yang sudah disebutkan di atas, maka tindakan yang paling tepat adalah bilang ke orang tua dan sesegera mungkin pergi ke dokter. Karena gejala-gejala di atas sudah menandakan jika kamu sudah mengidap Infeksi Kandung Kemih.

Apa sih Infeksi Kandung Kemih itu? Nah … yang dimaksud dengan Infeksi Kandung Kemih adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang terjadi pada saluran kemih terluar (tempat pembuangan air seni) hingga ke ginjal. Wa … ga mau kan masih muda tapi sudah kena gagal ginjal?karena (bukannya bermaksud menakut-nakuti loh) jika sudah parah penyakit ini dapat menyebabkan gagal ginjal

Infeksi Kandung Kemih ini bisa menjangkit biasanya karena kebiasaan kita menahan buang air kecil. Karena tanggung, tak jarang kita kerap menahan pipis hingga beberapa lama. Ternyata kebiasaan ini berbahaya loh, karena air seni yang berkumpul di kandung kemih bisa menjadi media yang baik untuk pertumbuhan kuman dan bakteri.

Penyebab lain penyakit ini adalah perilaku sehari-hari kita yang kurang memerhatikan kebersihan organ intim kita, karena daerah tersebut sangat rentan akan masuknya bakteri terlebih untuk anak perempuan.yang saluran urethranya lebih pendek jika dibandingkan dengan anak laki-laki.

Penyakit ini bisa disembuhkan ga sih? Wa … untungnya sih masih bisa. Jadi jika penyebabnya kita terlalu sering menahan buang air kecil, maka pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah meminum air sebanyak-banyaknya sehingga bakteri yang ada di dalam kandung kemih kita bisa turut keluar. Namun jika ternyata keadaan kita bertambah parah, segera pergi ke dokter dan biasanya dokter akan memberikan resep obat yang aman bagi kita untuk dikonsumsi.

So guys … jika kalian tidak mau dihinggapi Infeksi Kandung Kemih … beberapa hal yang perlu dicermati adalah:

· Minum air putih sebanyak-banyaknya (dianjurkan 8 gelas perhari) sehingga kuman dan bakteri yang ada di kandung kemih bisa terbawa keluar.

· Jangan pernah menahan buang air kecil. Jika kamu sudah terasa ingin buang air kecil, jangan ditunda segera cari kamar kecil.

· Jaga kebersihan organ intim kita. Usakan jika kita selesai buang air besar, bersihkan dari depan ke belakang sehingga kuman yang ada pada feces tidak terbawa ke organ intim kita.

· Gunakan air yang diyakini bersih pada saat membasuh organ intim kita.

Na … tidak sulit kan untuk mencegah penyakit ini berjangkit ke kita? Intinya adalah jangan sering-sering menahan buang air kecil dan selalu menjaga kebersihan organ imtim kita. [isthi]

No comment »